Kita sering lupa

Dahulu…

Betapa sabarnya orang tua kita saat mengurusi kita di waktu kecil di saat sedang sakit dan rewel. Jam tidur mereka berkurang dan mereka lebih mementingkan diri kita dibandingkan mereka dahulu.

Sekarang…

Sedikit-sedikit kita mengeluh saat mengurusi orang tua kita yang sudah tua di saat sedang sakit dan rewel. Jam tidur kita tidak mau berkurang dan apakah kita lebih mementingkan mereka terlebih dahulu dibandingkan diri kita sendiri?

#ceritatetanggabangsal

Menari

Kupu-kupu saling menyapa mengajak kita

Terbang bersama ke sana, menari-nari asmara

Siang ini aku kembali ke kampus, sedang berada di pintu selatan, berjalan ke arah tempat dimana aku resmi masuk menjadi mahasiswa dan keluar menjadi tukang insinyur (walaupun titelnya bukan insinyur). Tanpa disengaja, tanpa janji sebelumnya, bahkan tanpa menguntit dunia maya, aku bertemu dengan seseorang yang wajahnya jelas kembali terlihat setelah sekian lama. Dia, sebut saja dia, dia yang sudah lama tak menyapa, berpisah tanpa bersua, seketika hadir di hadapanku. Aku terperangah tetapi buru-buru tidak menunjukkannya.

Seperti tidak ada suatu peristiwa yang aneh, malah sebaliknya, kita seperti teman lama yang bertemu kembali. Aku menyapa dia, dan dia pun menyapa balik diriku. Sambil berjalan ke arah tempat tujuan pertamaku, kita mulai berbicara satu sama lain. Aku tidak sempat menanyakan kemana tujuannya, tetapi karena dia tetap berjalan beriringan denganku, anggap saja tujuan kami sama.

Dia masih sama seperti dulu. Senyum tipisnya, tawa candanya yang lepas, sampai matanya saat memperhatikan lawan berbicara, tak sedikitpun berubah. Masih saja mempesona, dan selalu mudah mengalihkan duniaku. Aku menanyakan bagaimana kabarnya, bagaimana kabar keluarganya, dan tidak ketinggalan bagaimana kabar si pangeran kucingnya. Ah..rasanya indah, seperti kupu-kupu yang beterbangan dan menari-nari di atas bunga. Bersamanya banyak energi positif yang dihasilkan, walaupun aku sadar kini situasinya berbeda.

Sesampainya kami di pintu utara kampus, aku masih saja tidak ingin berhenti mendengarkan ceritanya. Kalau kata dia dulu, “mas nanya melulu, lagi wawancara ya”. Kali ini aku penasaran dengan bagaimana kondisi kerjanya di tempat dia sekarang, apakah ke depannya dia akan berpindah tempat lagi atau seperti apa. Tepat di bagian atas dekat gedung yang aku tuju, kondisi sekitar ramai sekali. Aku tidak sadar kalau dia telah berhenti di atas tadi dan aku masih saja melanjutkan langkahku dengan menuruni anak tangga. Saat itu pula, aku langsung melihat-lihat di kerumunan banyak orang, dimana dia berada. Aku malah melihat teman kampusku dan pasangannya di kejauhan. Aku berteriak saja memanggil mereka, seraya memberitahu bahwa baru saja aku bertemu dia. Kebetulan teman kampusku dan pasangannya mengenalnya. Oh bukan kebetulan deh, memang sudah kenal dari dulu. Sayangnya teriakanku kurang cukup kencang untuk mereka dengar, dan mereka tampaknya belum sadar dengan hadirnya diriku di kerumunan banyak orang.

Tidak lama dari aku berteriak, ada seseorang dari belakang yang menepuk pundakku. (kalau kalian pikir yang menepuk pundakku adalah dia, atau orang yang mau menghipnotis, atau bahkan orang yang mau menodongku, bukan, bukan kesana jalan ceritanya). Teman SMA-ku yang tidak satu kampus denganku, si M, menyapaku dan langsung saja bertanya kepadaku bagaimana rasanya baru saja diterima di tempat kerja yang baru, jadinya akan dapat penempatan di Indonesia bagian mana. Aku menjawabnya dengan membuka mata dan..

Jam di telepon genggam menunjukkan 14:47. Aku membuka mata lebar-lebar dan mulai menyadari kalau wajah yang jelas kembali terlihat tadi berada di dalam mimpi siang bolong.

4 bulan

4 bulan itu fenomena dimana janin mulai dimasukkan ruh ke dalamnya.

4 bulan itu adalah masa dimana seorang wanita menangguhkan pernikahannya setelah ditinggal mati oleh suaminya atau setelah diceraikan.

4 bulan itu menjadi waktu dari awal perkenalan kami sampai dia memberikan si shoutcap merah kepadaku.

Dan 4 bulan itu menjadi lamanya berhenti coret-mencoret di blog ini hingga sekarang dimulai kembali.

Pilihan

Hidup itu pilihan.

Ya..pilihan. Sesederhana saat kita menuju ke mini market setelah letih bermain futsal. Masuk ke dalamnya, mencari minuman yang sekiranya dapat menghilangkan rasa dahaga dan letih kita. Dari banyaknya pilihan minuman, kita pasti akan memilih salah satunya. Melirik satu persatu ke atas ke bawah ke sudut rak dan kembali lagi ke ujung awal tempat kita mulai melirik. Oke, kita dapat minuman yang kita pilih, kita ambil dan kita bawa ke kasir. Setelah membayarnya, kita buka minuman tersebut dan kemudian kita meminumnya. 

Hmm..ternyata rasanya tidak sesuai dengan yang kita inginkan, langsung saja kita kembalikan minuman tersebut ke kasir sambil meminta uang kita kembali atau mungkin menukarnya dengan minuman lain yang mungkin menurut kita rasanya lebih baik. Oh..tentu saja tidak bisa, dengan si kasir melambaikan tangan kanannya di depan sambil mengernyitkan dahi. Apa yang sudah kamu pilih, kamu beli dan kamu pakai tidak dapat dikembalikan maupun ditukar. Kalau kamu mau, pilih lagi minuman lain dan beli juga, ucap si kasir setelah mengernyitkan dahinya.

Hidup itu pilihan

Ya..pilihan. Sesederhana seperti kita membeli minuman di mini market. Apapun yang kita pilih, siapapun yang kita pilih, silakanlah pikirkan kembali sebelum kita “membelinya”. Semua yang kita rasakan setelah “membelinya” takkan bisa kita hilangkan dan kita tolak. Terimalah resikonya.

Hidup itu pilihan.

Pilihan antara logika dan rasa. Bagi saya pribadi, rasa melebihi logika. Kadang rasa tidak selalu tepat dibanding logika. Penyesalan karena tidak tepat pasti ada. Meskipun begitu, menikmati rasa yang kita pilih dan masih bisa survive itu seperti “whatever doesn’t kill you, makes you stronger”

Seorang Teman pernah berpendapat bahwa logika melebihi rasa. Dan saya menghargai itu. Dia pasti kuat dan tegar menyimpan rasa yang harus mengalah 🙂

Hidup itu pilihan

Bersyukurlah dan bersabarlah.

Anak Bandel

Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut

*baru 1 lembar kertas bolak-balik yang terisi, masih ada 1 lembar kertas bolak-balik lagi tersisa*

Siapa yang dulu pernah menulis seperti di atas ini?
Buat yang pernah nulis pasti pernah bandel dan membuat si Ibu Guru menghukum kalian. Dengan cara seperti itu, Ibu guru berharap kita dapat sadar bahwa yang kita lakukan itu adalah sesuatu yang tidak sepatutnya dilakukan dan tidak akan diulangi lagi.

“Mari mengajari kami kembali, Bu Guru!”

Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut
….

*lanjut nulis*

Jalan pulang

Kalo dipikir pikir, kenapa ya jalan pulang biasanya lebih lama dibanding jalan pergi.

Laiknya ruh kita ketika pertama kali ditiupkan masuk ke janin di hari ke-120 dan sepanjang perjalanan kurang lebih 5 bulan kita akhirnya pertama kali mengedipkan mata ke dunia. Itu baru perjalanan pergi. Kemudian anggap saja dari bayi hingga kita akil baligh adalah tempat bersinggah, tempat beristirahat sebelum memulai jalan pulang. Dari akil baligh inilah kita memulai jalan pulang, jalan berliku dan banyak cabang yang ujungnya sama, sama-sama meninggalkan dunia ini.

Jalan pulang, membuat kita selalu berpikir, apa yang kita hasilkan..apakah sudah cukup menjadi bekal buat kita untuk pulang, apa yang sudah kita perbuat..apakah masih perlu mencoba sesuatu atau melakukan hal lain di jalan pulang?

Yang gue tau pasti, tidak akan ada suatu cerita yang menarik dengan perjalanan pulang yang singkat, seperti cerita conan edogawa yang lama aja kembali pulang menjadi shinichi kudo.

Tadaima~

Keadaan

Kata orang, sebaik baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Bagaimana jika ada manusia yang tidak bermanfaat bagi manusia lainnya? Bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya, ada manusia yang menyusahkan bagi manusia lainnya?

Pada dasarnya, manusia tidak bisa hidup sendiri, kecuali yang lagi jadi survivor di pulau antah berantah tanpa ada manusia lagi selain  dia ya. Manusia sebagai makhluk sosial akan membutuhkan berhubungan dengan manusia lainnya baik dari segi materiil maupun moril (ini gue ga ambil definisi dari pakar manapun ya, cuma berdasarkan logika aja, jadi jangan dijadiin referensi ya 😂). Kalo logikanya begitu, semua manusia harusnya bermanfaat. Kok bisa? Ya karena manusia lain pasti membutuhkan manusia lainnya.

Aktualnya, logika di atas cuma jadi teori dalam keadaan ideal aja. Ada deviasi-deviasi yang akhirnya bisa kita bilang kalo si A orangnya ga bermanfaat, si B orangnya nyusahin. Tunggu bentar. Emang ada manusia yang pengen jadi ga bermanfaat? Emang ada manusia yang pengen nyusahin manusia lainnya? Gue yakin, yakiiiin banget kalo semua manusia punya nurani, hati kecil yang bisa membedakan antara yang baik dengan yang buruk, hati kecil yang mengetahui bagaimana caranya bisa bermanfaat buat manusia lainnya.

Keadaan, keadaan yang bisa membuat si kuli angkut menjadi pencuri, keadaan yang bisa membuat petugas transportasi menjadi pemerkosa, keadaan yang bisa membuat seorang teman menjadi pembunuh bagi temannya yang lain. Keadaan memang tidak dapat disalahkan. Semuanya kembali lagi ke manusianya. Apakah akan selalu bermanfaat di berbagai keadaan ataukah akhirnya mengalah dengan keadaan. Bagi gue, apapun akhirnya, gue sudah memberikan “the best efforts” yang gue tau begitu caranya. Kalaupun itu malah membuat menyusahkan manusia lainnya, maafkan saya, maafkan mereka yang sudah bertarung dengan keadaan tetapi hasilnya malah tidak bermanfaat ataupun menyusahkan.

Gue baru kepikiran jadinya. Apakah di dunia ini ada manusia yang jahat, yang buruk hatinya? Gue pikir itu hanyalah sebuah efek, efek dari ketidakberdayaan menghadapi keadaan sehingga pilihan yang diambil adalah pilihan yang tidak sesuai nurani.

Random banget gue tetiba nulis beginian, mana pembahasannya ngalor ngidul, ya pokoknya keep strong lah.