Semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak kepadamu, kakakku sayang

Hari ini usiamu tepat 43 tahun jika kamu masih hidup di dunia. Qadarullah, 4 bulan yang lalu kamu telah dipanggil kembali kepada-Nya, yang kini sedang menjalani fase selanjutnya di Alam Barzakh (Ya Allah yang Maha Pengampun Maha Penyayang, ampunilah dosa-dosanya, dan terimalah amal-amal baiknya, serta lindungilah ia dari adzab kubur). 

Siapa yang tidak bersedih ketika ditinggal oleh salah satu orang terdekatnya, dan begitu pula juga saya. Saya menemani proses meninggalnya kakak dari mulai sakit yang bertambah parah sampai mendinginnya bagian tubuh ujung kaki ke paha dan ujung tangan ke lengan serta nafas yang berhembus dengan irama looping normal-melambat-normal-melambat. Walaupun saya tidak berada di sisinya pada saat-saat hembusan nafas terakhirnya.

Meninggalnya kakak menjadi pelajaran bagi saya bahwa kematian bukanlah hanya sebuah wacana yang sering saya ucapkan, “Ya, kalo udah ga dapet rezeki, berarti mati”. Bahwa sesungguhnya kematian lebih dari itu. Rasa sakit sakaratul maut yang kemudian dilanjutkan dengan dicabutnya nyawa kita merupakan awalan dari fase berikutnya yang semua manusia pasti melaluinya. Dimana pada fase tersebut, kita tidak dapat berbuat apa-apa lagi, tidak mungkin memperbaiki perbuatan kita sebelumnya di dunia. Walhasil, saya jadi berpikir kembali ke diri saya sendiri. Jika saya sedang di posisi kakak saya, menjalani proses kematian, saya belum siap. Saya belum siap mati dengan kondisi seperti waktu itu. 28 tahun usia saya selama ini sudah saya gunakan untuk apa. Kebanyakan hanya membuang-buang waktu hidup di dunia dan lalai dengan persiapan menuju akhirat.

Dengan izin Allah, meninggalnya kakak menjadi penyebab saya mendapatkan hidayah, Insyaallah. Semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak kepadamu, kakakku sayang. Semoga amal-amal baik saya ditujukan kepadamu juga, aamiin. Buat teman-teman yang membaca ini, mari kita berpikir ulang kembali tentang kehidupan di dunia. Karena Allah, saya mengajak kalian untuk hijrah, untuk pindah lebih mengutamakan akhirat daripada dunia tanpa melupakan kebutuhan kita di dunia. Simpan akhirat di hatimu, dan genggam dunia di tanganmu.

β€œDan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-β€˜Ankabut: 64).

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Al Hadiid: 20)

Mari perbanyak amal shalih, belajar untuk jangan kasih jeda pada perbuatan yang baik, belajar untuk tidak berhenti menjadi baik. Apabila suatu saat kita terjerumus pada kesalahan dan dosa, tetap berusahalah pada waktu selanjutnya mengganti dengan amal shalih.

Harapan saya, teman-teman dapat berempati dengan keadaan saya. Tidak perlu menunggu teman-teman merasakan sendiri bagaimana ketika orang terdekat meninggal, atau malah menunggu saat teman-teman merasakan sendiri proses menjelang sakaratul maut. Cukuplah kematian sebagai nasehat.
Ibn Amin

Jakarta, 29 April 2017.

Kotak Biru

Pernah denger besaran skalar dan besaran vektor? Jangan tanya besaran yang mana ya, skalar atau vektor (Jangan ngegaring dulu aaah…). Oke, udah inget ya dulu pernah denger. Ingetan gue sendiri langsung menampilkan Bu Diana –Guru Fisika SMP gue yang cantik tapi agak jutek– lagi ngajarin bedanya besaran skalar dengan vektor di depan ruangan kelas. Kalo skalar itu hanya mempunyai nilai, seperti massa dan waktu, sedangkan vektor itu mempunyai nilai dan arah, macem kecepatan gitu.

Kemaren hari minggu gue nemenin temen gue yang lagi nyari hadiah buat dijadiin kado ultah pacarnya. Hadiah yang dicari ga jauh-jauh dari pakaian ataupun aksesorisnya. Karena range budget yang ditetapin terlalu sempit, sedangkan yang diliat dan dipilih selalu di luar budget, jadinya kami masuk keluar toko berkali-kali. Di saat jam ke-3 pencarian kami, gue sendiri udah mulai ga fokus bantuin dia nyari. Bahkan, sampe dia nanya pendapat ke gue pun, gue hanya bisa diam termenung.

Waktu itu termasuk besaran skalar. Kenapa? Karena dia hanya punya nilai tanpa arah. 1.5 detik, 1.5 menit, 1.5 jam, 1.5 hari, 1.5 minggu, 1.5 bulan, 1.5 tahun. Nilai itu akan terus bertambah, naik, ataupun bergerak maju. Walaupun begitu, kita bisa memanipulasi waktu dari besaran skalar menjadi besaran vektor, seperti teknologi rekaman.

Rewind…

“Mas, coba pake ini deh”, kata si adek yang baru keluar stasiun turun dari kereta, langsung menghampiri gue sambil nyodorin kantong plastik. Gue ambil kantong plastik itu dan gue buka, warna biru isinya.

Tadi pagi si adek pengen liat setelan bagian atas apa yang bakal gue pake ke resepsi nikahan temen. “Klik!”, sending photos (foto jas biru donker, daleman kemeja kotak merah). Ngeliat outfit yang mau gue pake, si adek komen harusnya dalemannya pake warna biru, jangan merah, ga nyambung. Harap maklum ya, gue paling ga ngerti masalah fesyen.

“Gimana?”, gue nanya ke adek udah cocok belum jas biru donker dengan daleman kemeja kotak biru. “Oke..cocok kok”,  si adek nanggepin sambil merhatiin tubuh gue yang tetep aja keliatan cingkrang ahahaha.

Pikiran membuat waktu menjadi besaran vektor. Waktu yang terus bertambah, naik, ataupun bergerak maju dapat berkurang, turun, ataupun bergerak mundur. Walaupun nyatanya waktu akan terus bergerak ke kuadran kanan, tapi selalu ada ruang maya di kuadran kiri yang kapan saja dapat menarik waktu bergerak ke arahnya.

“Gimana Gi, gue belum nemu nih yang pas buat doi”, temen gue masih lalu lalang aja di depan gue. Kemeja kotak biru masih terngiang-ngiang di pikiran gue sampai akhirnya hilang buyar berubah menjadi kemeja bunga-bunga bergantungan yang ada di samping gue.

Mau jadi skalar ataupun vektor, waktu itu menjadi sangat berharga. Saat si adek menyempatkan waktunya sendirian untuk mencarikan kemeja kotak biru sebelum kami bertemu siang itu. Bagaimana niatnya, usahanya, dan pengorbanannya (bukan soal materi ya) sampai sekarang masih belum dapat terbalaskan oleh gue. Hanya bisa merawat kotak biru, maaf ya..

“Jadinya ga ada yang dibeli nih”, sambil gue mendorong kecil bahu temen gue.

Untuk Masa Kini dan Masa Depan

Sebagai makhluk ciptaan-Nya, suatu hal yang lumrah bagi kita untuk mendekatkan kening kita ke tempat sujud sesering mungkin. Memang karena Dia-lah tempat kita menyembah, tempat kita meminta pertolongan, seperti yang selalu kita ucapkan sebanyak minimal 17 kali dalam sehari. Berbicara tentang hal ini, kira-kira apa yang selalu muncul di benak kita pertama kali saat kita bermunajat kepada Allah ar-Rahman?

Kalau saya tebak, kemungkinan besar isi munajat tersebut tentang diri kita sendiri dan orang-orang yang kita sayangi, meliputi kesehatan, (calon) pasangan, harta benda, maupun ujian-ujian duniawi yang sedang kita jalani. Ada yang salah memangnya? Oh tentu tidak. Kembali lagi bahwa Allah-lah tempat meminta pertolongan. Silahkan meminta apapun itu dan curahkanlah isi hati karena Dia adalah sebaik-baiknya tempat mengadu.

Sebagai umat muslim, kita diwajibkan untuk mengimani hari akhir. Hari dimana kehidupan dunia yang kita jalani bersifat fana dan akan berakhir kemudian berganti dengan kehidupan yang abadi nantinya. Di kehidupan yang abadi pilihannya hanya ada dua, Jannah (surga) atau Naar (neraka). Kembali lagi tentang isi munajat yang kita bicarakan sebelumnya. Tebakan-tebakan saya tersebut dapat dikategorikan sebagai Masa Kini. Lantas bagaimana dengan Masa Depan?

Yang saya maksud Masa Depan adalah masa setelah hari Akhir, dimana hari perhitungan dan pembalasan dimulai dan akan menjadi abadi. Mungkin kita sering lupa untuk memasukkannya dalam isi munajat kita atau bahkan jarang muncul di benak kita waktu kita menengadahkan kedua tangan kita ke atas. Padahal kalau dipikir-pikir kembali, munajat untuk Masa Kini dan Masa Depan adalah sama pentingnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata :”Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata :”Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka”. [Hadits Riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami No. 911. Jilid 6].*)

Jadi, mulai sekarang setiap hari di dalam sholat maupun munajat kita di waktu lain, mau kan untuk memohon dimasukkan ke dalam surga dan memohon dijauhkan dari api neraka sebanyak 3x?

Untuk Masa Kini dan Masa Depan πŸ˜‰
*) hadits saya nukil dari link ini http://abuayaz.blogspot.com/2011/05/perintah-untuk-meminta-surga.html?m=1

Jesgujesgujes tut tut

A: “Eh keretanya dateng tuh, yuk naek”.

(si A mengajak si J naik ke dalam kereta dan mencari tempat duduk mereka)

Sesaat setelah duduk si A berbicara kembali

A: “Denger deh nanti pas keretanya jalan, pasti bunyinya tut tut tut jeges jeges”.

J: “Bukan dodol, bunyinya kereta itu jesgujesgujes tut tut”.

Tidak lama kemudian kereta pun berjalan

A: “Tuh kan bunyinya tut tut tut jeges jeges” (sambil komat kamit memiripkan suaranya dengan suara tebakannya).

J: πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘

Melenceng Dieng (bukan hal biasa)

“Lanjut malem ini”. Itulah opsi yang kami pilih. Berbeda dengan jalan sebelumnya, jalan yang akan kami lalui merupakan jalur alternatif penghubung jalur pantura dengan bagian tengah jawa. Biasanya jalur ini untuk bus dan truk. Tetapi tetap aja, jam 9 malem berangkat masuk hutan-hutan perbukitan dengan pake motor bukan hal yang biasa.

Buat temen-temen yang suka dengan nite touring pake motor, jalan ini recommended abis. Coba kalian search kajen-wanayasa di gmaps. Sepanjang jalan dipenuhi oleh warna hijau yang menandakan bahwa itu merupakan daerah dataran tinggi. Dan emang bener, treknya perbukitan yang naik turun melingkar-lingkar. Karena itu pas malem hari, hawa dinginnya berasa banget, ngebuat adrenalin gue ga berhenti berpacu.

Hawa dingin gampang banget bikin laper. Apalagi pas di angkringan gue ga bekel karbo sama sekali. Walaupun kami berada di tengah perbukitan, alhamdulillah masih ada pemukiman warga, dan syukurnya lagi masih ada yang jualan nasgor. Oke, kami berhenti dulu untuk mengisi perut yang sebenernya. Gue turun dari motor sambil liat jam tangan. “Gokil! perjalanan udah berasa lama dan jauh, ternyata masih jam 10 malem”, gumam gue. Ya begitulah efek menempuh jalan melingkar naik turun. Udah berasa lama banget padahal mah baru setengah perjalanan untuk menuju Dieng Plateau. Seperti sebelumnya, kami ngobrol dengan penjual nasgor dan bertanya jalan menuju Dieng. Si penjual nasgor bilang kalo kami sudah berada di jalan yang tepat. Nanti pas ketemu pertigaan wanayasa, ambil lurus, jangan kanan, dari situ udah mudah menuju Dieng.

Setelah makan nasgor beres plus kami BAK dulu di tempat yang lumayan spooky, kami lanjutin perjalanan. Oh iya, mulai dari sini, gue pake baju hangat yang berarti gue udah make pakaian atas 3 rangkap, kaos, baju hangat, dan jaket. Sumpah, dinginnya udah berasa banget, ditambah semilir angin yang ga berhenti berhenti pas di motor. Bodohnya gue, alas kaki yang gue pake adalah sendal gunung *ig*r tanpa pake kaos kaki. Dan di sepanjang perjalanan selanjutnya, kaki guelah yang jadi sasaran empuk buat si hawa dingin menyelinap ke tubuh gue.

Suasana malem yang gelap dan dingin mampu mengalihkan perasaan khawatir (baca: perasaan aneh akan adanya sesuatu) gue yang sedang melewati lereng lereng bukit. Hingga di suatu tempat yang kami lewati bukan hawa dingin yang mengenai kaki gue, melainkan hawa anget. Untungnya ga ada peristiwa aneh-aneh, dan gue ga sempet ngasitau temen gue tentang hal itu. Biar ajalah dia fokus ngendarain motor, pikir gue. Dan ternyata temen gue juga merasakan hawa anget itu (dia ceritainnya saat pertama kali kami sampe di Dieng). Kembali ke cerita perjalanan, sampailah kami di pertigaan wanayasa. Perjalanan dari situ udah deket menuju Dieng Plateau. Syukurnya kami ga perlu melewati hutan hutan lagi. Di sekeliling kami udah mulai keliatan pemukiman warga tetap dengan background bukit bukit. Perjalanan menuju Dieng masih terus naik ke atas bukit.

Yihaaa! Hari baru berganti menuju sabtu dan kami sampe di Dieng Plateau. Di tengah malem, berdua satu motor, kami berkeliaran di Dataran Tinggi Dieng, Negeri di atas awan. Dieng Plateau dengan ketinggian 2000 mdpl emang ga salah kalo dibilang negeri di atas awan karena ternyata banyak pemukiman warga di situ. Anyway, kebahagiaan yang terpancar setelah kurang lebih 10 jam Cirebon-Dieng menjadi ilang begitu saja saat kami ga bisa nemuin penginapan yang available. Semua penginapan penuh dibooking dan kebanyakan berasal dari peserta Dieng Culture Festival. Duh! Di tengah malem yang super dingin begitu ga dapet penginapan. Mana kata orang-orang kalo lagi musim kemarau, suhu malem di Dieng bisa di bawah 0 derajat celcius.

Akhirnya kami berhenti di depan toko yang kebetulan ada toilet di samping luarnya. Sambil ganti-gantian BAK, kami berdiri menggigil kedinginan gatau apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Wow..keajaiban datang, alhamdulillah. Segerombolan muda 1 mudi memberhentikan motor-motornya di depan kami. Temen gue yang hebat gaya pedekatenya sama orang laen langsung mendekati dan berkenalan. Ternyata mereka berasal dari Semarang dan sudah membooking penginapan yang ada di seberang toko. Langsung aja kami minta tolong agar bisa ikut nginep bersama mereka. Terimakasih buat kebaikan mereka. Kalo aja kami ga ketemu mereka, bisa jadi kami akan semaleman di luar ditemani dingin yang menusuk.

Overall, kami sampe di Dieng. Buat saya pribadi, masih ada misi yang harus diselesaikan. Tetapi malam itu kami harus tidur dulu, istirahat yang nyenyak setelah melewati perjalanan yang unforgettable dan unexpected moments yang seruuu…btw, aernya super duper dingin cuy…gudnite πŸ˜‰

Jeruk Bule

Di kuliah semester 8 saya sering sekali kembali ke Jakarta. Saat itu, saya sedang berada di Jakarta dan akan berangkat ke Bandung. Biasanya sih sering naik bus atau travel (dengan tarif mahasiswa tentunya), tetapi tidak kali ini. Saya pergi ke Stasiun Jatinegara dan membeli tiket kereta bisnis (saya lupa apakah waktu itu KA Bandung sudah menjadi satu KA Argo Parahyangan atau masih berpisah antara KA Argo Gede dengan KA Parahyangan).

Kereta datang dari arah barat memasuki stasiun, berhenti sesaat, kursi 14A pun saya duduki sambil melihat pemandangan luar yang dipisahkan oleh kaca. Kembali melihat ke dalam kereta sekilas, terlihat ada wanita yang mendekati saya, wanita berambut pirang. Ternyata dia duduk di sebelah saya, di kursi 14B.

Perjalanan kereta di atas rel menuju Bandung — setelah melewati stasiun cikampek — banyak dihiasi dengan pemandangan Bukit, sawah, dan jangan lupa dengan pemandangan jembatan Cipada yang berada di ruas tol Cipularang. Oke, kita kembali ke dalam kereta. Saya biasa membawa dan membaca buku di dalam perjalanan. Meskipun tidak kebanyakan orang suka membaca buku saat berada di dalam benda bergerak. Alasannya pasti dapat membuat mereka pusing. Selain membawa buku, saya sering sekali membawa bekal di dalam perjalanan, khususnya perjalanan yang memakan waktu agak lama. Kali ini yang saya bawa adalah jeruk, jeruk yang biasa kita sebut dengan Jeruk Bali. Jeruk yang saya bawa sudah diiris menjadi beberapa irisan. Ketika saya mengeluarkannya dari plastik dan ingin memakannya, kemudian saya lihat wanita pirang yang duduk di samping saya. Dari wajahnya dapat dipastikan bahwa dia bukan orang Indonesia.

“Do you want aaa…Balinese Orange?”, saya menawarkan jeruk bali dengan sempat berpikir sesaat bahasa inggrisnya Jeruk Bali apa ya dan membahasakannya secara asal… Kemudian dia tersenyum, berkata “Thanks..”, dan meraih Jeruk Bali yang saya tawarkan. Ketika Jeruk Bali sudah di tangannya, tiba-tiba langsung dia lahap beserta kulit-kulitnya. Sontak saya berkata “No..no..no…first you must open it and then you can eat it”, sambil memeragakan cara memakan Jeruk Bali. Dan akhirnya dia mengikuti saya. Setelah dia menghabiskan satu irisan jeruk, langsung saya tawarkan lagi dan dia hanya tersenyum saja tanpa mengambil irisan jeruk dari plastik yang ada di tengah kami.

Kira-kira, bagaimana ya rasanya makan Jeruk Bali beserta kulitnya? Ada yang mau coba? Tebak saya, rasanya ga jauh-jauh dari pahit, hahaha… Tapi berani juga si wanita bule langsung main lahap-lahap aja. Mungkin maksudnya untuk menghargai tawaran saya ya, apalagi waktu dia gigit, tidak ada respon kaget atau sedikit berteriak bahwa rasanya pahit. Atau memang dia sudah biasa memakan makanan berasa pahit, hehe… Dan yang jadi pertanyaan lain (yang sampai sekarang belum terjawab) adalah bahasa inggrisnya Jeruk Bali tuh apa ya, hmm…

“TV Hitam-Putih” vs “TV berwarna”

Bangun pagi lanjut mandi terus sarapan dan kemudian siap-siap berangkat kerja. Menikmati macet jalan raya ditemani suara penyiar radio dan sederet lagu hingga sampai di tempat kerja. Say hi and good morning pada rekan kerja, duduk di depan meja kerja, menyusun schedule kerja, eksekusi sampai jarum pendek sudah bergerak menyinggahi 7 angka. Pulang kerja dengan lagi-lagi menikmati macet jalan raya ditemani suara penyiar radio dan sederet lagu. Sampai rumah, mandi-makan-istirahat menjadi aktivitas yang autopilot. Dan di penghujung hari ditutup dengan tidur. Keesokan hari, rangkaian aktivitas dimulai dari atas kembali dan dilanjutkan persis sesuai dengan deskripsi di atas. Hal tersebut berulang selama weekdays dan dilabeli sebagai rutinitas. Begitulah yang dialami oleh karyawan/ti lajang di sekitaran ibukota dengan umur 20-an. Paling tidak cerita di atas dapat dijadikan suatu template dengan tambahan aktivitas yang bervariatif antar satu sama lain.

Itu baru bercerita tentang weekdays saja. Bagaimana dengan weekend? Kebanyakan mereka akan memilih untuk beraktivitas yang bertujuan pada refreshing. Walaupun ada segelintir yang mencari bisnis ataupun kerja sampingan. Refreshing lebih banyak diartikan sebagai hiburan. Andaikata saya menganalogikan hiburan menjadi televisi (TV), dimana TV merupakan salah satu sarana hiburan, maka terdapat dua jenis TV. Refreshing yang dilakukan oleh karyawan/ti lajang, baik di weekdays setelah pulang kerja maupun seharian penuh di weekend, saya analogikan menjadi jenis TV yang pertama, yaitu TV hitam-putih. Eh..sebentar, maksud saya lajang yang single (jomblo) ya. Kembali lagi ke TV hitam-putih, bagaimana penampakan isinya? Yap, hitam putih. Ya itu aja, hitam putih. Coba direfleksikan ke refreshing -nya si lajang yang single. Bagaiman rasanya? Penat hilang, senang datang. Terus kemudian bagaimana? Ya penat hilang, senang datang. Tuh kan, macam TV hitam-putih ya…

Jenis TV yang kedua lebih modern nih, yaitu TV berwarna. Refreshing yang dilakukan oleh karyawan/ti lajang ini mungkin tidak jauh berbeda dengan jenis TV yang pertama. Akan tetapi, untuk jenis TV berwarna ini ditujukan kepada karyawan/ti lajang yang sedang mempunyai pasangan (baik dengan status maupun tanpa status). Bagaimana rasanya refreshing mereka? Penat hilang, senang datang. Tidak hanya senang yang datang, kadang canda, kadang tawa, kadang sedih, kadang kesal, kadang semangat, kadang bete. Mirip dengan penampakan TV berwarna, warna yang keluar tidak hanya hitam dan putih, melainkan berwarna-warni. Saat kita menonton pertandingan sepakbola dengan TV berwarna, kita akan mengetahui kalau warna kostumnya AC Milan itu merah-hitam, kostumnya Inter Milan itu biru-hitam, dan Juventus itu putih-hitam. Akan terlihat sama saja warnanya jika menonton dari TV hitam-putih. Begitu pula dengan adanya pasangan, refreshing yang kita lakukan bersamanya akan memunculkan perasaan yang bermacam-macam buat kita juga.

Lalu, anda mau refreshing dengan TV hitam-putih atau TV berwarna?

NB : analoginya tampak maksa ya :))