Eufoni Hujan (lagi)

Eufoni hujan, kembali mengalun manis

Semanis kebaikan dia yang tak mampu terbalas


Di bulan Desember, hujan berdatangan deras

Sederas waktu yang bergerak mundur tak ada habis

Meskipun siang, gemericik air hujan terdengar jelas

Sejelas asa yang tergantung dan akhirnya putus

Jika tetesan air hujan jatuh ke bumi dengan tulus

Setulus hati yang menyadari bahwa dia bukanlah Dia, maka belajarlah untuk ikhlas

Pada saat rintik-rintik hujan tidak lagi bergerak lurus

Selurus jiwa yang menerima takdir yang telah tertulis

Hujan pun akan berganti oleh cerah yang romantis

Seromantis pasangan kekasih yang bertutur kata halus

Advertisements

Semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak kepadamu, kakakku sayang

Hari ini usiamu tepat 43 tahun jika kamu masih hidup di dunia. Qadarullah, 4 bulan yang lalu kamu telah dipanggil kembali kepada-Nya, yang kini sedang menjalani fase selanjutnya di Alam Barzakh (Ya Allah yang Maha Pengampun Maha Penyayang, ampunilah dosa-dosanya, dan terimalah amal-amal baiknya, serta lindungilah ia dari adzab kubur). 

Siapa yang tidak bersedih ketika ditinggal oleh salah satu orang terdekatnya, dan begitu pula juga saya. Saya menemani proses meninggalnya kakak dari mulai sakit yang bertambah parah sampai mendinginnya bagian tubuh ujung kaki ke paha dan ujung tangan ke lengan serta nafas yang berhembus dengan irama looping normal-melambat-normal-melambat. Walaupun saya tidak berada di sisinya pada saat-saat hembusan nafas terakhirnya.

Meninggalnya kakak menjadi pelajaran bagi saya bahwa kematian bukanlah hanya sebuah wacana yang sering saya ucapkan, “Ya, kalo udah ga dapet rezeki, berarti mati”. Bahwa sesungguhnya kematian lebih dari itu. Rasa sakit sakaratul maut yang kemudian dilanjutkan dengan dicabutnya nyawa kita merupakan awalan dari fase berikutnya yang semua manusia pasti melaluinya. Dimana pada fase tersebut, kita tidak dapat berbuat apa-apa lagi, tidak mungkin memperbaiki perbuatan kita sebelumnya di dunia. Walhasil, saya jadi berpikir kembali ke diri saya sendiri. Jika saya sedang di posisi kakak saya, menjalani proses kematian, saya belum siap. Saya belum siap mati dengan kondisi seperti waktu itu. 28 tahun usia saya selama ini sudah saya gunakan untuk apa. Kebanyakan hanya membuang-buang waktu hidup di dunia dan lalai dengan persiapan menuju akhirat.

Dengan izin Allah, meninggalnya kakak menjadi penyebab saya mendapatkan hidayah, Insyaallah. Semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak kepadamu, kakakku sayang. Semoga amal-amal baik saya ditujukan kepadamu juga, aamiin. Buat teman-teman yang membaca ini, mari kita berpikir ulang kembali tentang kehidupan di dunia. Karena Allah, saya mengajak kalian untuk hijrah, untuk pindah lebih mengutamakan akhirat daripada dunia tanpa melupakan kebutuhan kita di dunia. Simpan akhirat di hatimu, dan genggam dunia di tanganmu.

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-‘Ankabut: 64).

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(QS Al Hadiid: 20)

Mari perbanyak amal shalih, belajar untuk jangan kasih jeda pada perbuatan yang baik, belajar untuk tidak berhenti menjadi baik. Apabila suatu saat kita terjerumus pada kesalahan dan dosa, tetap berusahalah pada waktu selanjutnya mengganti dengan amal shalih.

Harapan saya, teman-teman dapat berempati dengan keadaan saya. Tidak perlu menunggu teman-teman merasakan sendiri bagaimana ketika orang terdekat meninggal, atau malah menunggu saat teman-teman merasakan sendiri proses menjelang sakaratul maut. Cukuplah kematian sebagai nasehat.
Ibn Amin

Jakarta, 29 April 2017.

Kotak Biru

Pernah denger besaran skalar dan besaran vektor? Jangan tanya besaran yang mana ya, skalar atau vektor (Jangan ngegaring dulu aaah…). Oke, udah inget ya dulu pernah denger. Ingetan gue sendiri langsung menampilkan Bu Diana –Guru Fisika SMP gue yang cantik tapi agak jutek– lagi ngajarin bedanya besaran skalar dengan vektor di depan ruangan kelas. Kalo skalar itu hanya mempunyai nilai, seperti massa dan waktu, sedangkan vektor itu mempunyai nilai dan arah, macem kecepatan gitu.

Kemaren hari minggu gue nemenin temen gue yang lagi nyari hadiah buat dijadiin kado ultah pacarnya. Hadiah yang dicari ga jauh-jauh dari pakaian ataupun aksesorisnya. Karena range budget yang ditetapin terlalu sempit, sedangkan yang diliat dan dipilih selalu di luar budget, jadinya kami masuk keluar toko berkali-kali. Di saat jam ke-3 pencarian kami, gue sendiri udah mulai ga fokus bantuin dia nyari. Bahkan, sampe dia nanya pendapat ke gue pun, gue hanya bisa diam termenung.

Waktu itu termasuk besaran skalar. Kenapa? Karena dia hanya punya nilai tanpa arah. 1.5 detik, 1.5 menit, 1.5 jam, 1.5 hari, 1.5 minggu, 1.5 bulan, 1.5 tahun. Nilai itu akan terus bertambah, naik, ataupun bergerak maju. Walaupun begitu, kita bisa memanipulasi waktu dari besaran skalar menjadi besaran vektor, seperti teknologi rekaman.

Rewind…

“Mas, coba pake ini deh”, kata si adek yang baru keluar stasiun turun dari kereta, langsung menghampiri gue sambil nyodorin kantong plastik. Gue ambil kantong plastik itu dan gue buka, warna biru isinya.

Tadi pagi si adek pengen liat setelan bagian atas apa yang bakal gue pake ke resepsi nikahan temen. “Klik!”, sending photos (foto jas biru donker, daleman kemeja kotak merah). Ngeliat outfit yang mau gue pake, si adek komen harusnya dalemannya pake warna biru, jangan merah, ga nyambung. Harap maklum ya, gue paling ga ngerti masalah fesyen.

“Gimana?”, gue nanya ke adek udah cocok belum jas biru donker dengan daleman kemeja kotak biru. “Oke..cocok kok”,  si adek nanggepin sambil merhatiin tubuh gue yang tetep aja keliatan cingkrang ahahaha.

Pikiran membuat waktu menjadi besaran vektor. Waktu yang terus bertambah, naik, ataupun bergerak maju dapat berkurang, turun, ataupun bergerak mundur. Walaupun nyatanya waktu akan terus bergerak ke kuadran kanan, tapi selalu ada ruang maya di kuadran kiri yang kapan saja dapat menarik waktu bergerak ke arahnya.

“Gimana Gi, gue belum nemu nih yang pas buat doi”, temen gue masih lalu lalang aja di depan gue. Kemeja kotak biru masih terngiang-ngiang di pikiran gue sampai akhirnya hilang buyar berubah menjadi kemeja bunga-bunga bergantungan yang ada di samping gue.

Mau jadi skalar ataupun vektor, waktu itu menjadi sangat berharga. Saat si adek menyempatkan waktunya sendirian untuk mencarikan kemeja kotak biru sebelum kami bertemu siang itu. Bagaimana niatnya, usahanya, dan pengorbanannya (bukan soal materi ya) sampai sekarang masih belum dapat terbalaskan oleh gue. Hanya bisa merawat kotak biru, maaf ya..

“Jadinya ga ada yang dibeli nih”, sambil gue mendorong kecil bahu temen gue.

Menari

Kupu-kupu saling menyapa mengajak kita

Terbang bersama ke sana, menari-nari asmara

Siang ini aku kembali ke kampus, sedang berada di pintu selatan, berjalan ke arah tempat dimana aku resmi masuk menjadi mahasiswa dan keluar menjadi tukang insinyur (walaupun titelnya bukan insinyur). Tanpa disengaja, tanpa janji sebelumnya, bahkan tanpa menguntit dunia maya, aku bertemu dengan seseorang yang wajahnya jelas kembali terlihat setelah sekian lama. Dia, sebut saja dia, dia yang sudah lama tak menyapa, berpisah tanpa bersua, seketika hadir di hadapanku. Aku terperangah tetapi buru-buru tidak menunjukkannya.

Seperti tidak ada suatu peristiwa yang aneh, malah sebaliknya, kita seperti teman lama yang bertemu kembali. Aku menyapa dia, dan dia pun menyapa balik diriku. Sambil berjalan ke arah tempat tujuan pertamaku, kita mulai berbicara satu sama lain. Aku tidak sempat menanyakan kemana tujuannya, tetapi karena dia tetap berjalan beriringan denganku, anggap saja tujuan kami sama.

Dia masih sama seperti dulu. Senyum tipisnya, tawa candanya yang lepas, sampai matanya saat memperhatikan lawan berbicara, tak sedikitpun berubah. Masih saja mempesona, dan selalu mudah mengalihkan duniaku. Aku menanyakan bagaimana kabarnya, bagaimana kabar keluarganya, dan tidak ketinggalan bagaimana kabar si pangeran kucingnya. Ah..rasanya indah, seperti kupu-kupu yang beterbangan dan menari-nari di atas bunga. Bersamanya banyak energi positif yang dihasilkan, walaupun aku sadar kini situasinya berbeda.

Sesampainya kami di pintu utara kampus, aku masih saja tidak ingin berhenti mendengarkan ceritanya. Kalau kata dia dulu, “mas nanya melulu, lagi wawancara ya”. Kali ini aku penasaran dengan bagaimana kondisi kerjanya di tempat dia sekarang, apakah ke depannya dia akan berpindah tempat lagi atau seperti apa. Tepat di bagian atas dekat gedung yang aku tuju, kondisi sekitar ramai sekali. Aku tidak sadar kalau dia telah berhenti di atas tadi dan aku masih saja melanjutkan langkahku dengan menuruni anak tangga. Saat itu pula, aku langsung melihat-lihat di kerumunan banyak orang, dimana dia berada. Aku malah melihat teman kampusku dan pasangannya di kejauhan. Aku berteriak saja memanggil mereka, seraya memberitahu bahwa baru saja aku bertemu dia. Kebetulan teman kampusku dan pasangannya mengenalnya. Oh bukan kebetulan deh, memang sudah kenal dari dulu. Sayangnya teriakanku kurang cukup kencang untuk mereka dengar, dan mereka tampaknya belum sadar dengan hadirnya diriku di kerumunan banyak orang.

Tidak lama dari aku berteriak, ada seseorang dari belakang yang menepuk pundakku. (kalau kalian pikir yang menepuk pundakku adalah dia, atau orang yang mau menghipnotis, atau bahkan orang yang mau menodongku, bukan, bukan kesana jalan ceritanya). Teman SMA-ku yang tidak satu kampus denganku, si M, menyapaku dan langsung saja bertanya kepadaku bagaimana rasanya baru saja diterima di tempat kerja yang baru, jadinya akan dapat penempatan di Indonesia bagian mana. Aku menjawabnya dengan membuka mata dan..

Jam di telepon genggam menunjukkan 14:47. Aku membuka mata lebar-lebar dan mulai menyadari kalau wajah yang jelas kembali terlihat tadi berada di dalam mimpi siang bolong.

Pilihan

Hidup itu pilihan.

Ya..pilihan. Sesederhana saat kita menuju ke mini market setelah letih bermain futsal. Masuk ke dalamnya, mencari minuman yang sekiranya dapat menghilangkan rasa dahaga dan letih kita. Dari banyaknya pilihan minuman, kita pasti akan memilih salah satunya. Melirik satu persatu ke atas ke bawah ke sudut rak dan kembali lagi ke ujung awal tempat kita mulai melirik. Oke, kita dapat minuman yang kita pilih, kita ambil dan kita bawa ke kasir. Setelah membayarnya, kita buka minuman tersebut dan kemudian kita meminumnya. 

Hmm..ternyata rasanya tidak sesuai dengan yang kita inginkan, langsung saja kita kembalikan minuman tersebut ke kasir sambil meminta uang kita kembali atau mungkin menukarnya dengan minuman lain yang mungkin menurut kita rasanya lebih baik. Oh..tentu saja tidak bisa, dengan si kasir melambaikan tangan kanannya di depan sambil mengernyitkan dahi. Apa yang sudah kamu pilih, kamu beli dan kamu pakai tidak dapat dikembalikan maupun ditukar. Kalau kamu mau, pilih lagi minuman lain dan beli juga, ucap si kasir setelah mengernyitkan dahinya.

Hidup itu pilihan

Ya..pilihan. Sesederhana seperti kita membeli minuman di mini market. Apapun yang kita pilih, siapapun yang kita pilih, silakanlah pikirkan kembali sebelum kita “membelinya”. Semua yang kita rasakan setelah “membelinya” takkan bisa kita hilangkan dan kita tolak. Terimalah resikonya.

Hidup itu pilihan.

Pilihan antara logika dan rasa. Bagi saya pribadi, rasa melebihi logika. Kadang rasa tidak selalu tepat dibanding logika. Penyesalan karena tidak tepat pasti ada. Meskipun begitu, menikmati rasa yang kita pilih dan masih bisa survive itu seperti “whatever doesn’t kill you, makes you stronger”

Seorang Teman pernah berpendapat bahwa logika melebihi rasa. Dan saya menghargai itu. Dia pasti kuat dan tegar menyimpan rasa yang harus mengalah 🙂

Hidup itu pilihan

Bersyukurlah dan bersabarlah.

Anak Bandel

Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut

*baru 1 lembar kertas bolak-balik yang terisi, masih ada 1 lembar kertas bolak-balik lagi tersisa*

Siapa yang dulu pernah menulis seperti di atas ini?
Buat yang pernah nulis pasti pernah bandel dan membuat si Ibu Guru menghukum kalian. Dengan cara seperti itu, Ibu guru berharap kita dapat sadar bahwa yang kita lakukan itu adalah sesuatu yang tidak sepatutnya dilakukan dan tidak akan diulangi lagi.

“Mari mengajari kami kembali, Bu Guru!”

Saya mohon maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut
….

*lanjut nulis*

Jalan pulang

Kalo dipikir pikir, kenapa ya jalan pulang biasanya lebih lama dibanding jalan pergi.

Laiknya ruh kita ketika pertama kali ditiupkan masuk ke janin di hari ke-120 dan sepanjang perjalanan kurang lebih 5 bulan kita akhirnya pertama kali mengedipkan mata ke dunia. Itu baru perjalanan pergi. Kemudian anggap saja dari bayi hingga kita akil baligh adalah tempat bersinggah, tempat beristirahat sebelum memulai jalan pulang. Dari akil baligh inilah kita memulai jalan pulang, jalan berliku dan banyak cabang yang ujungnya sama, sama-sama meninggalkan dunia ini.

Jalan pulang, membuat kita selalu berpikir, apa yang kita hasilkan..apakah sudah cukup menjadi bekal buat kita untuk pulang, apa yang sudah kita perbuat..apakah masih perlu mencoba sesuatu atau melakukan hal lain di jalan pulang?

Yang gue tau pasti, tidak akan ada suatu cerita yang menarik dengan perjalanan pulang yang singkat, seperti cerita conan edogawa yang lama aja kembali pulang menjadi shinichi kudo.

Tadaima~