Kotak Biru

Pernah denger besaran skalar dan besaran vektor? Jangan tanya besaran yang mana ya, skalar atau vektor (Jangan ngegaring dulu aaah…). Oke, udah inget ya dulu pernah denger. Ingetan gue sendiri langsung menampilkan Bu Diana –Guru Fisika SMP gue yang cantik tapi agak jutek– lagi ngajarin bedanya besaran skalar dengan vektor di depan ruangan kelas. Kalo skalar itu hanya mempunyai nilai, seperti massa dan waktu, sedangkan vektor itu mempunyai nilai dan arah, macem kecepatan gitu.

Kemaren hari minggu gue nemenin temen gue yang lagi nyari hadiah buat dijadiin kado ultah pacarnya. Hadiah yang dicari ga jauh-jauh dari pakaian ataupun aksesorisnya. Karena range budget yang ditetapin terlalu sempit, sedangkan yang diliat dan dipilih selalu di luar budget, jadinya kami masuk keluar toko berkali-kali. Di saat jam ke-3 pencarian kami, gue sendiri udah mulai ga fokus bantuin dia nyari. Bahkan, sampe dia nanya pendapat ke gue pun, gue hanya bisa diam termenung.

Waktu itu termasuk besaran skalar. Kenapa? Karena dia hanya punya nilai tanpa arah. 1.5 detik, 1.5 menit, 1.5 jam, 1.5 hari, 1.5 minggu, 1.5 bulan, 1.5 tahun. Nilai itu akan terus bertambah, naik, ataupun bergerak maju. Walaupun begitu, kita bisa memanipulasi waktu dari besaran skalar menjadi besaran vektor, seperti teknologi rekaman.

Rewind…

“Mas, coba pake ini deh”, kata si adek yang baru keluar stasiun turun dari kereta, langsung menghampiri gue sambil nyodorin kantong plastik. Gue ambil kantong plastik itu dan gue buka, warna biru isinya.

Tadi pagi si adek pengen liat setelan bagian atas apa yang bakal gue pake ke resepsi nikahan temen. “Klik!”, sending photos (foto jas biru donker, daleman kemeja kotak merah). Ngeliat outfit yang mau gue pake, si adek komen harusnya dalemannya pake warna biru, jangan merah, ga nyambung. Harap maklum ya, gue paling ga ngerti masalah fesyen.

“Gimana?”, gue nanya ke adek udah cocok belum jas biru donker dengan daleman kemeja kotak biru. “Oke..cocok kok”,  si adek nanggepin sambil merhatiin tubuh gue yang tetep aja keliatan cingkrang ahahaha.

Pikiran membuat waktu menjadi besaran vektor. Waktu yang terus bertambah, naik, ataupun bergerak maju dapat berkurang, turun, ataupun bergerak mundur. Walaupun nyatanya waktu akan terus bergerak ke kuadran kanan, tapi selalu ada ruang maya di kuadran kiri yang kapan saja dapat menarik waktu bergerak ke arahnya.

“Gimana Gi, gue belum nemu nih yang pas buat doi”, temen gue masih lalu lalang aja di depan gue. Kemeja kotak biru masih terngiang-ngiang di pikiran gue sampai akhirnya hilang buyar berubah menjadi kemeja bunga-bunga bergantungan yang ada di samping gue.

Mau jadi skalar ataupun vektor, waktu itu menjadi sangat berharga. Saat si adek menyempatkan waktunya sendirian untuk mencarikan kemeja kotak biru sebelum kami bertemu siang itu. Bagaimana niatnya, usahanya, dan pengorbanannya (bukan soal materi ya) sampai sekarang masih belum dapat terbalaskan oleh gue. Hanya bisa merawat kotak biru, maaf ya..

“Jadinya ga ada yang dibeli nih”, sambil gue mendorong kecil bahu temen gue.

Kita sering lupa

Dahulu…

Betapa sabarnya orang tua kita saat mengurusi kita di waktu kecil di saat sedang sakit dan rewel. Jam tidur mereka berkurang dan mereka lebih mementingkan diri kita dibandingkan mereka dahulu.

Sekarang…

Sedikit-sedikit kita mengeluh saat mengurusi orang tua kita yang sudah tua di saat sedang sakit dan rewel. Jam tidur kita tidak mau berkurang dan apakah kita lebih mementingkan mereka terlebih dahulu dibandingkan diri kita sendiri?

#ceritatetanggabangsal

Jesgujesgujes tut tut

A: “Eh keretanya dateng tuh, yuk naek”.

(si A mengajak si J naik ke dalam kereta dan mencari tempat duduk mereka)

Sesaat setelah duduk si A berbicara kembali

A: “Denger deh nanti pas keretanya jalan, pasti bunyinya tut tut tut jeges jeges”.

J: “Bukan dodol, bunyinya kereta itu jesgujesgujes tut tut”.

Tidak lama kemudian kereta pun berjalan

A: “Tuh kan bunyinya tut tut tut jeges jeges” (sambil komat kamit memiripkan suaranya dengan suara tebakannya).

J: 😑😑😑

Melenceng Dieng (440 km)

Walaupun matahari sudah menyembul, tapi pagi itu masih berasa dingin. Keluar kamar dan beranjak ke teras atas melihat pemandangan kota dieng pagi hari. Jangan salah, gue udah cumuk dan sigi dulu ya di kamar mandi pake air yang super duper dingin. Di penginapan pagi itu gue cuma berdua sama temen gue. Ternyata si temen-temen semarang udah berangkat ke bukit sikunir duluan sebelum shubuh kata temen gue. Oke, sambil lanjut nyeruput teh anget dan ngeliat anak-anak sd yang pada jalan kaki berangkat sekolah. Teh angetnya sih bikin lidah kepanasan tapi tetep aja bagian tubuh yang laen kedinginan kena semilir angin pagi. Anyway, di Dieng ini gue susah dapet sinyal internet, gatau kenapa, tapi gue agak susah kontak-kontakan via internet.

Dengan tidak punya itinerary yang detail, kami mencoba muter-muter dulu area sekitar penginapan. Kawah sikidang dan telaga warna kami kelilingi. Di kawah sikidang kita dapat melihat secara dekat kawah yang masih aktif dan mengeluarkan asap belerang. Di telaga warna kita dapat melihat telaga yang warnanya berbeda antara satu telaga dan telaga lainnya. Di situ juga ada goa pertapaan tetapi kita tidak dapat memasukinya hanya melihat dari luar saja. Belum sampai sore kita balik lagi ke penginapan. Ternyata temen-temen semarang ini cuma 1 malem 1 hari aja nginepnya. Untungnya mereka sempet bantuin nyari penginapan yang kosong buat kami dan alhamdulillahnya dapet. Di penginapan yang baru itu kami ketemu dengan wanita-wanita tangerang. Selanjutnya kami jalan bersama mereka di sisa travelling kami di Dieng.

Acara Dieng Culture Festival baru dimulai malam itu, malam minggu, tepat setahun yang lalu. Sayangnya kami berlima ga ada yang punya tiketnya. Pendaftaran udah ditutup karena kuotanya udah maksimum. Alhasil kami cuma jalan ke Candi Arjuna dan duduk-duduk. Padahal acara utama DCF nya ada di situ juga tapi harus masuk pake tiket. Malem itu candi arjuna dipenuhi oleh sekitar dua ribu orang, termasuk kami kami yang tidak kebagian tiket. Suara-suara musik mulai mengalun dan terlihat di atas langit lampion lampion mulai berterbangan. Karena kami tidak punya tiket dan tidak dapat masuk ke acara utama, kami mengitari area candi saja. Di salah satu sudut candi kami melihat orang-orang sedang berkumpul dan menerobos pinggir sawah untuk memasuki area acara utama yang tidak dijaga petugas. Kami pun mengikuti mereka dan voila, kami sudah duduk di tanah tepat di depan panggung jazz di atas awan. Di tengah kerumunan ribuan orang dan sambil mengikuti irama jazz, dinginnya malam Dieng yang bisa mencapai di bawah 0 derajat celcius menjadi tidak terlalu berasa.

Sambil mengeluarkan hape dan melihat berharap sinyal internet bersahabat, saya pun clingak-clinguk 360 derajat mencoba mencari pertanda. Ya, saya punya misi tertentu. Di tengah acara jazz di atas awan dan semakin banyak orang-orang yang menerbangkan lampionnya, saya beranjak dari tanah tempat saya duduk. Bagi saya 440 km hanya menjadi travelling biasa kalau tidak melakukan hal itu. Berjalan menyusuri sekitar garis belakang area acara utama, menyusupi orang-orang yang menerbangkan lampion, akhirnya jantung saya tambah berdegup kencang ditambah sedikit keringat dingin di kepala yang kalah dingin dengan cuaca malam Dieng. Saya menemukannya, melihatnya, mendekatinya, dan dia melihat saya. Kaget, pasti dia kaget, saya tau itu. Pertemuan dengannya yang tidak sampai semenit beserta ucapannya akan selalu menjadi memori. Dari ribuan orang di malam hari yang sangat meriah saya dapat menemukannya. Thanks God. Walaupun surprise dengan freak beda tipis sih.

DCF masih berlangsung sampai tengah malam. Bahkan setelah lampion-lampion habis diterbangkan dilanjut dengan pesta kembang api yang tak habis-habis. Tetapi karena sebelum shubuh kami harus berangkat ke bukit sikunir, kami memutuskan untuk cabut lebih dulu kembali ke penginapan. Singkat cerita, alarm berbunyi menunjukkan pukul 04.00. Kami yang baru tidur sekitar 2.5 jam langsung bergegas. Kenapa harus secepat itu ya? Tujuan dari ke Bukit Sikunir adalah melihat sunrise saat mencapai puncaknya. Bayangkan jika 2000 orang yang ada di DCF tadi malam semuanya ke sikunir, pasti bakal penuh sekali. Kami menggunakan motor untuk kesana dan memang kalau mengandalkan jalan kaki saja ternyata jauh juga. Perjalanan kami masih menuju ke desa yang lebih tinggi lagi. Saya ralat, desa paling tinggi di Dieng Plateau. Sampai di tempat kami harus memarkir motor dan itu merupakan awal penanjakan, kami disuguhi oleh pemandangan danau yang sangat luas dan begitu indah. Di pinggiran danau terlihat tenda-tenda camping yang saya kira itu punya orang-orang yang lebih dulu menanjak. Benar sajalah yang saya bilang tadi, saking banyaknya orang yang ke bukit Sikunir, penanjakan menjadi macet dan lama. Dan ketika kami sudah sedikit lagi mencapai puncak, sunrise akan terjadi sebentar lagi. Saya baru ingat kalau saya belum sholat shubuh sehingga saya buru-buru turun ke tempat yang dijadikan musholla, dan kami mulai berpencar. Jadinya saya tidak mendapatkan pemandangan awal sunrise. Sesampainya kami di puncak Sikunir, Allahu Akbar, begitu indahnya. Kita dapat melihat gunung-gunung lain yang saling berjajar, dimana gunung sumbing menjadi gunung yang jaraknya paling dekat. Lumayan lama kami di sini sambil menikmati pemandangannya.

Turun dari Bukit Sikunir kami kembali ke penginapan. Sebenernya masih ada lanjutan acara lagi dari DCF yaitu prosesi pencukuran rambut anak gimbal. Tetapi karena kami kurang tidur, kami memilih untuk tidur saja menghabiskan siang. Minggu sore saya dan teman saya kembali ke Cirebon dan berpisah dengan temen-temen Tangerang. Oh iya, sepanjang hari minggu itu Dieng Plateau macet total. Entah bagaimana Pemda mengatur lalu lintasnya, tetapi menurut kami, sistem arah laju kendaraan bisa dibuat satu arah sepanjang DCF berlangsung. Apalagi DCF ini merupakan acara tahunan, harusnya mereka bisa melakukan evaluasi.

Melenceng Dieng checked. Tahun ini kemana ya?

Jeruk Bule

Di kuliah semester 8 saya sering sekali kembali ke Jakarta. Saat itu, saya sedang berada di Jakarta dan akan berangkat ke Bandung. Biasanya sih sering naik bus atau travel (dengan tarif mahasiswa tentunya), tetapi tidak kali ini. Saya pergi ke Stasiun Jatinegara dan membeli tiket kereta bisnis (saya lupa apakah waktu itu KA Bandung sudah menjadi satu KA Argo Parahyangan atau masih berpisah antara KA Argo Gede dengan KA Parahyangan).

Kereta datang dari arah barat memasuki stasiun, berhenti sesaat, kursi 14A pun saya duduki sambil melihat pemandangan luar yang dipisahkan oleh kaca. Kembali melihat ke dalam kereta sekilas, terlihat ada wanita yang mendekati saya, wanita berambut pirang. Ternyata dia duduk di sebelah saya, di kursi 14B.

Perjalanan kereta di atas rel menuju Bandung — setelah melewati stasiun cikampek — banyak dihiasi dengan pemandangan Bukit, sawah, dan jangan lupa dengan pemandangan jembatan Cipada yang berada di ruas tol Cipularang. Oke, kita kembali ke dalam kereta. Saya biasa membawa dan membaca buku di dalam perjalanan. Meskipun tidak kebanyakan orang suka membaca buku saat berada di dalam benda bergerak. Alasannya pasti dapat membuat mereka pusing. Selain membawa buku, saya sering sekali membawa bekal di dalam perjalanan, khususnya perjalanan yang memakan waktu agak lama. Kali ini yang saya bawa adalah jeruk, jeruk yang biasa kita sebut dengan Jeruk Bali. Jeruk yang saya bawa sudah diiris menjadi beberapa irisan. Ketika saya mengeluarkannya dari plastik dan ingin memakannya, kemudian saya lihat wanita pirang yang duduk di samping saya. Dari wajahnya dapat dipastikan bahwa dia bukan orang Indonesia.

“Do you want aaa…Balinese Orange?”, saya menawarkan jeruk bali dengan sempat berpikir sesaat bahasa inggrisnya Jeruk Bali apa ya dan membahasakannya secara asal… Kemudian dia tersenyum, berkata “Thanks..”, dan meraih Jeruk Bali yang saya tawarkan. Ketika Jeruk Bali sudah di tangannya, tiba-tiba langsung dia lahap beserta kulit-kulitnya. Sontak saya berkata “No..no..no…first you must open it and then you can eat it”, sambil memeragakan cara memakan Jeruk Bali. Dan akhirnya dia mengikuti saya. Setelah dia menghabiskan satu irisan jeruk, langsung saya tawarkan lagi dan dia hanya tersenyum saja tanpa mengambil irisan jeruk dari plastik yang ada di tengah kami.

Kira-kira, bagaimana ya rasanya makan Jeruk Bali beserta kulitnya? Ada yang mau coba? Tebak saya, rasanya ga jauh-jauh dari pahit, hahaha… Tapi berani juga si wanita bule langsung main lahap-lahap aja. Mungkin maksudnya untuk menghargai tawaran saya ya, apalagi waktu dia gigit, tidak ada respon kaget atau sedikit berteriak bahwa rasanya pahit. Atau memang dia sudah biasa memakan makanan berasa pahit, hehe… Dan yang jadi pertanyaan lain (yang sampai sekarang belum terjawab) adalah bahasa inggrisnya Jeruk Bali tuh apa ya, hmm…

Obrolan Akhir Tahun Bersama Atasan

“Kalau dalam permainan sepakbola, saya belum mengeluarkan kemampuan saya secara optimal”, dan atasan saya pun tersenyum mendengar hal itu.

Sore hari, sudah melewati jam pulang kerja, seperti biasa, saya belum pulang dan kemudian ditahan atasan waktu itu untuk jangan pulang dulu, hmm…tanda panggilan untuk menghadap ke mejanya. Eh ternyata tidak hanya saya saja yang diminta menghadap, rekan kerja yang lain pun mengalami hal yang sama. “Ini panggilan rutin akhir tahun toh”, pikir saya, baru nyadar, hehe..

“Bagaimana kerja di sini?” pertanyaan yang dikeluarkan atasan ketika saya sedang menghadap ke mejanya. “Kalau dalam permainan sepakbola, saya belum mengeluarkan kemampuan saya secara optimal”. Dan saya pun menyambut dengan pertanyaan baru, “Dari Bapak sendiri apakah ada masukan sebagai bahan evaluasi saya selama bekerja di sini?”.

Si Bapak mengingatkan bahwa seperti dalam permainan sepakbola, kita tidak bisa bermain sendirian, dibutuhkan kerjasama tim, begitu juga dengan saya, harus dapat meningkatkan teamwork dengan section & department lain yang kerjanya berkaitan. Dan ini kalimat yang saya masih ingat sampai sekarang dari si Bapak, “Yang perlu diperhatikan yaitu PDCA dijalankan secara baik, nanti result akan mengikutinya. Jika ingin result yang baik tapi PDCA tidak dijalankan dengan baik, ya tidak akan menghasilkan result yang baik nantinya”. PDCA teh naon? Wah, saya jadi punya hutang untuk menjelaskannya nih..

Sedikit pandangan dari beliau, walaupun terkesan pragmatis, tapi ada benarnya juga sih. Si Bapak menjelaskan bedanya sekolah dengan bekerja. Di sekolah itu jika kita diberikan nilai 100 itu nilainya bagus, bahkan 80 pun juga sudah bagus, kenapa? karena kita yang membayar sekolah. Sedangkan dalam bekerja jika mendapatkan nilai 100 itu baru cukup, kenapa? karena kita dibayar 100 juga oleh perusahaan. Nilai 100 itu perhitungannya baru balik modal bagi perusahaan, makanya nilai yang bagus itu lebih dari 100. Intinya mah, kita harus memberikan hasil yang bagus & benefit yang lebih buat perusahaan, tidak hanya mencukupkan pada selesainya pekerjaan yang kita lakukan.

Terakhir dari si Bapak, “Kalau ada permasalahan, langsung cerita saja, anggap saya teman, bukan sebagai atasan bawahan. Perbedaan saya dengan kamu hanya saya lahir lebih dulu”. Memang saya pun kagum sama atasan yang satu ini, pintar, ganteng, dan low profile pula. Beliau pun membuat style berpakaian sendiri, yang ini malah jadi diikuti oleh staf-staf di departemennya, termasuk saya :D. Baju kerja dibuka sebagian kancing atasnya dengan menunjukkan adanya dalaman kemeja lain, celana jeans, dan jam tangan. He is Mr. M. Saleh Daulay, Dept. Head of Engineering

Posted from WordPress for Android