Menari

Kupu-kupu saling menyapa mengajak kita

Terbang bersama ke sana, menari-nari asmara

Siang ini aku kembali ke kampus, sedang berada di pintu selatan, berjalan ke arah tempat dimana aku resmi masuk menjadi mahasiswa dan keluar menjadi tukang insinyur (walaupun titelnya bukan insinyur). Tanpa disengaja, tanpa janji sebelumnya, bahkan tanpa menguntit dunia maya, aku bertemu dengan seseorang yang wajahnya jelas kembali terlihat setelah sekian lama. Dia, sebut saja dia, dia yang sudah lama tak menyapa, berpisah tanpa bersua, seketika hadir di hadapanku. Aku terperangah tetapi buru-buru tidak menunjukkannya.

Seperti tidak ada suatu peristiwa yang aneh, malah sebaliknya, kita seperti teman lama yang bertemu kembali. Aku menyapa dia, dan dia pun menyapa balik diriku. Sambil berjalan ke arah tempat tujuan pertamaku, kita mulai berbicara satu sama lain. Aku tidak sempat menanyakan kemana tujuannya, tetapi karena dia tetap berjalan beriringan denganku, anggap saja tujuan kami sama.

Dia masih sama seperti dulu. Senyum tipisnya, tawa candanya yang lepas, sampai matanya saat memperhatikan lawan berbicara, tak sedikitpun berubah. Masih saja mempesona, dan selalu mudah mengalihkan duniaku. Aku menanyakan bagaimana kabarnya, bagaimana kabar keluarganya, dan tidak ketinggalan bagaimana kabar si pangeran kucingnya. Ah..rasanya indah, seperti kupu-kupu yang beterbangan dan menari-nari di atas bunga. Bersamanya banyak energi positif yang dihasilkan, walaupun aku sadar kini situasinya berbeda.

Sesampainya kami di pintu utara kampus, aku masih saja tidak ingin berhenti mendengarkan ceritanya. Kalau kata dia dulu, “mas nanya melulu, lagi wawancara ya”. Kali ini aku penasaran dengan bagaimana kondisi kerjanya di tempat dia sekarang, apakah ke depannya dia akan berpindah tempat lagi atau seperti apa. Tepat di bagian atas dekat gedung yang aku tuju, kondisi sekitar ramai sekali. Aku tidak sadar kalau dia telah berhenti di atas tadi dan aku masih saja melanjutkan langkahku dengan menuruni anak tangga. Saat itu pula, aku langsung melihat-lihat di kerumunan banyak orang, dimana dia berada. Aku malah melihat teman kampusku dan pasangannya di kejauhan. Aku berteriak saja memanggil mereka, seraya memberitahu bahwa baru saja aku bertemu dia. Kebetulan teman kampusku dan pasangannya mengenalnya. Oh bukan kebetulan deh, memang sudah kenal dari dulu. Sayangnya teriakanku kurang cukup kencang untuk mereka dengar, dan mereka tampaknya belum sadar dengan hadirnya diriku di kerumunan banyak orang.

Tidak lama dari aku berteriak, ada seseorang dari belakang yang menepuk pundakku. (kalau kalian pikir yang menepuk pundakku adalah dia, atau orang yang mau menghipnotis, atau bahkan orang yang mau menodongku, bukan, bukan kesana jalan ceritanya). Teman SMA-ku yang tidak satu kampus denganku, si M, menyapaku dan langsung saja bertanya kepadaku bagaimana rasanya baru saja diterima di tempat kerja yang baru, jadinya akan dapat penempatan di Indonesia bagian mana. Aku menjawabnya dengan membuka mata dan..

Jam di telepon genggam menunjukkan 14:47. Aku membuka mata lebar-lebar dan mulai menyadari kalau wajah yang jelas kembali terlihat tadi berada di dalam mimpi siang bolong.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s