Hakuna Matata

Selagi asik ngejilatin jari jemarinya, tetiba dia mendengar suara hentakan dari ruangan lain. Kaget, melihat ke sekeliling, bukan..suara itu bukan berasal dari dalam kotak tipis datar lebar berwarna yang ada di depannya. Selanjutnya ada suara langkah kaki yang makin lama mendekat dan seketika melewati dia begitu saja. Sambil melihat sesosok yang melewatinya, dia langsung melompat dari singgasananya kemudian mengejar dan mengikuti sosok tersebut.

“Bruuk..!!”, sosok itu menjatuhkan diri ke kasurnya sambil merentangkan kedua tangannya dan menghela nafas yang panjang. Dia, si kucing yang sudah mengikuti dan mengejar si empunya sampai ke kamar langsung saja ikut naik ke atas kasur. Dengan gaya jalan tegapnya bak pangeran yang sedang menjemput sang putri, si kucing semakin mendekat ke wajah perempuan berparas manis, wajah si empunya.

Si kucing sadar bahwa ada yang berbeda dari raut wajah empunya. Bukan seperti raut kelelahan yang setiap hari ditunjukkan si empunya karena mesti bertarung dengan kemacetan dan kepadatan kota seberang. Bukan juga raut cemas karena abis berpapasan dengan kuntilanak (duuh..ini bukan cerita horor macem nightmare side-nya Ar*an FM ya). Ya lebih tepatnya raut ini adalah raut kebanyakan wanita lainnya, saat harus memilih jalan yang ia tempuh demi masa depannya dan itu mungkin tidak sesuai dengan yang ia inginkan dulunya.

Dengan manjanya, si kucing pun mulai mendusel-ndusel empunya, dia berharap raut wajah empunya dapat berubah jadi lebih baik. Dan kemudian empunya menghela nafas lagi sambil mulai mengelus-elus kucingnya. “Bin (anggep aja nama si kucing robin ya), kamu tau ga kenapa aku ada di posisi seperti ini sekarang?”, si empunya mulai membuka topik pembicaraan.

Kucing, atau hewan peliharaan lainnya bukan hanya jadi suatu benda yang dirawat dan perlu dibersihkan tetapi dapat juga menjadi sahabat. Kenapa dibilang begitu? Karena dia akan mendengarkan apapun yang ingin kita ceritakan saat mereka ada bersama kita. Tanpa perlu berkomentar, menceramahi maupun menggurui. Mungkin ini bisa jadi bahan kontemplasi buat saya, buat kamu, buat kita sebagai seorang sahabat. Kita tidak perlu menjadi hewan peliharaan terlebih dahulu untuk menjadi pendengar bagi teman ataupun sahabat kita. Kadang kita lupa, kita sering saja melihat dari sudut pandang kita tanpa mencoba memposisikan diri kita seperti ia. Dan yang paling terpenting adalah dengarkan! Dengarkan dan coba rasakan saat di posisi ia.

Ilmu fisika mengajarkan kepada kita bahwa tekanan berbanding terbalik dengan luas permukaan yang terkena gaya. Semakin besar luas permukaan berarti semakin kecil tekanannya di saat nilai gaya yang sama. Jika apa yang dirasakan teman atau sahabat kita bisa dibagi dengan kita mungkin “tekanan” tersebut dapat menjadi lebih kecil dari sebelumnya. Walaupun itu hanya mendengarkan saja.

Terimakasih ya bin,
Kasitau empunya kamu,
Gantian pake ekspresinya kamu ditunjukin ke ia,
“Hakuna matata” 😉

*apa yang dilakukan si kucing cuma hipotesa gue aja, maklum ga pernah melihara kucing*

**kalo isinya ga nyambung, maklum juga ya, masih penulis amatiran**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s