Jalan pulang

Kalo dipikir pikir, kenapa ya jalan pulang biasanya lebih lama dibanding jalan pergi.

Laiknya ruh kita ketika pertama kali ditiupkan masuk ke janin di hari ke-120 dan sepanjang perjalanan kurang lebih 5 bulan kita akhirnya pertama kali mengedipkan mata ke dunia. Itu baru perjalanan pergi. Kemudian anggap saja dari bayi hingga kita akil baligh adalah tempat bersinggah, tempat beristirahat sebelum memulai jalan pulang. Dari akil baligh inilah kita memulai jalan pulang, jalan berliku dan banyak cabang yang ujungnya sama, sama-sama meninggalkan dunia ini.

Jalan pulang, membuat kita selalu berpikir, apa yang kita hasilkan..apakah sudah cukup menjadi bekal buat kita untuk pulang, apa yang sudah kita perbuat..apakah masih perlu mencoba sesuatu atau melakukan hal lain di jalan pulang?

Yang gue tau pasti, tidak akan ada suatu cerita yang menarik dengan perjalanan pulang yang singkat, seperti cerita conan edogawa yang lama aja kembali pulang menjadi shinichi kudo.

Tadaima~

Advertisements

Keadaan

Kata orang, sebaik baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Bagaimana jika ada manusia yang tidak bermanfaat bagi manusia lainnya? Bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya, ada manusia yang menyusahkan bagi manusia lainnya?

Pada dasarnya, manusia tidak bisa hidup sendiri, kecuali yang lagi jadi survivor di pulau antah berantah tanpa ada manusia lagi selain  dia ya. Manusia sebagai makhluk sosial akan membutuhkan berhubungan dengan manusia lainnya baik dari segi materiil maupun moril (ini gue ga ambil definisi dari pakar manapun ya, cuma berdasarkan logika aja, jadi jangan dijadiin referensi ya 😂). Kalo logikanya begitu, semua manusia harusnya bermanfaat. Kok bisa? Ya karena manusia lain pasti membutuhkan manusia lainnya.

Aktualnya, logika di atas cuma jadi teori dalam keadaan ideal aja. Ada deviasi-deviasi yang akhirnya bisa kita bilang kalo si A orangnya ga bermanfaat, si B orangnya nyusahin. Tunggu bentar. Emang ada manusia yang pengen jadi ga bermanfaat? Emang ada manusia yang pengen nyusahin manusia lainnya? Gue yakin, yakiiiin banget kalo semua manusia punya nurani, hati kecil yang bisa membedakan antara yang baik dengan yang buruk, hati kecil yang mengetahui bagaimana caranya bisa bermanfaat buat manusia lainnya.

Keadaan, keadaan yang bisa membuat si kuli angkut menjadi pencuri, keadaan yang bisa membuat petugas transportasi menjadi pemerkosa, keadaan yang bisa membuat seorang teman menjadi pembunuh bagi temannya yang lain. Keadaan memang tidak dapat disalahkan. Semuanya kembali lagi ke manusianya. Apakah akan selalu bermanfaat di berbagai keadaan ataukah akhirnya mengalah dengan keadaan. Bagi gue, apapun akhirnya, gue sudah memberikan “the best efforts” yang gue tau begitu caranya. Kalaupun itu malah membuat menyusahkan manusia lainnya, maafkan saya, maafkan mereka yang sudah bertarung dengan keadaan tetapi hasilnya malah tidak bermanfaat ataupun menyusahkan.

Gue baru kepikiran jadinya. Apakah di dunia ini ada manusia yang jahat, yang buruk hatinya? Gue pikir itu hanyalah sebuah efek, efek dari ketidakberdayaan menghadapi keadaan sehingga pilihan yang diambil adalah pilihan yang tidak sesuai nurani.

Random banget gue tetiba nulis beginian, mana pembahasannya ngalor ngidul, ya pokoknya keep strong lah.

Hakuna Matata

Selagi asik ngejilatin jari jemarinya, tetiba dia mendengar suara hentakan dari ruangan lain. Kaget, melihat ke sekeliling, bukan..suara itu bukan berasal dari dalam kotak tipis datar lebar berwarna yang ada di depannya. Selanjutnya ada suara langkah kaki yang makin lama mendekat dan seketika melewati dia begitu saja. Sambil melihat sesosok yang melewatinya, dia langsung melompat dari singgasananya kemudian mengejar dan mengikuti sosok tersebut.

“Bruuk..!!”, sosok itu menjatuhkan diri ke kasurnya sambil merentangkan kedua tangannya dan menghela nafas yang panjang. Dia, si kucing yang sudah mengikuti dan mengejar si empunya sampai ke kamar langsung saja ikut naik ke atas kasur. Dengan gaya jalan tegapnya bak pangeran yang sedang menjemput sang putri, si kucing semakin mendekat ke wajah perempuan berparas manis, wajah si empunya.

Si kucing sadar bahwa ada yang berbeda dari raut wajah empunya. Bukan seperti raut kelelahan yang setiap hari ditunjukkan si empunya karena mesti bertarung dengan kemacetan dan kepadatan kota seberang. Bukan juga raut cemas karena abis berpapasan dengan kuntilanak (duuh..ini bukan cerita horor macem nightmare side-nya Ar*an FM ya). Ya lebih tepatnya raut ini adalah raut kebanyakan wanita lainnya, saat harus memilih jalan yang ia tempuh demi masa depannya dan itu mungkin tidak sesuai dengan yang ia inginkan dulunya.

Dengan manjanya, si kucing pun mulai mendusel-ndusel empunya, dia berharap raut wajah empunya dapat berubah jadi lebih baik. Dan kemudian empunya menghela nafas lagi sambil mulai mengelus-elus kucingnya. “Bin (anggep aja nama si kucing robin ya), kamu tau ga kenapa aku ada di posisi seperti ini sekarang?”, si empunya mulai membuka topik pembicaraan.

Kucing, atau hewan peliharaan lainnya bukan hanya jadi suatu benda yang dirawat dan perlu dibersihkan tetapi dapat juga menjadi sahabat. Kenapa dibilang begitu? Karena dia akan mendengarkan apapun yang ingin kita ceritakan saat mereka ada bersama kita. Tanpa perlu berkomentar, menceramahi maupun menggurui. Mungkin ini bisa jadi bahan kontemplasi buat saya, buat kamu, buat kita sebagai seorang sahabat. Kita tidak perlu menjadi hewan peliharaan terlebih dahulu untuk menjadi pendengar bagi teman ataupun sahabat kita. Kadang kita lupa, kita sering saja melihat dari sudut pandang kita tanpa mencoba memposisikan diri kita seperti ia. Dan yang paling terpenting adalah dengarkan! Dengarkan dan coba rasakan saat di posisi ia.

Ilmu fisika mengajarkan kepada kita bahwa tekanan berbanding terbalik dengan luas permukaan yang terkena gaya. Semakin besar luas permukaan berarti semakin kecil tekanannya di saat nilai gaya yang sama. Jika apa yang dirasakan teman atau sahabat kita bisa dibagi dengan kita mungkin “tekanan” tersebut dapat menjadi lebih kecil dari sebelumnya. Walaupun itu hanya mendengarkan saja.

Terimakasih ya bin,
Kasitau empunya kamu,
Gantian pake ekspresinya kamu ditunjukin ke ia,
“Hakuna matata” 😉

*apa yang dilakukan si kucing cuma hipotesa gue aja, maklum ga pernah melihara kucing*

**kalo isinya ga nyambung, maklum juga ya, masih penulis amatiran**

Pe.De.Ka.te.

Di suatu tempo hari Seseorang (S) mengambil hapenya, membuka chat app, melihat chat list dan memilih yang Di sana (D) untuk dia hubungi

S: Anak jaman sekarang biasanya punya akun ******* D
S: 😀
D: Yoii..
S: Jawabannya yoi doang ya 😅 *mengharapkan jawaban lain*
D: Apa dong..yoaa gitu
D: Bilang kek..D ******* lo apaan?
D: Hahaha
S: Haha..mbak D hebat, bisa baca pikiran gw
S: D ******* lo apaan?
D: Hahaha
D: Abis bbb lo ahh..basa basi busuk 😝
D: ###########
D: Gw cenayang loh S..hahaha
S: Terus gimana dongs 😐
S: Bbb gw kan basa basi bolehjuga 😎
D: Hahaha
D: Iya aja deh gw drpd ruyam
S: Ruyam makanan apa tuh
S: Asik jg punya temen cenayang,, gw bs nanya2 dong k lo 😀
D: Sejenis rujak itu
D: Ahh sayang sekali gw udah ga buka praktek
S: Hoo..ruyam tuh rujak ayam, baru tau..
D: S..krik kriiik
D: Udah tidur S..udh malem

Gue bikinnya udah kayak di ngupingjakarta aja ya,, eh masih aktif ga tuh sekarang..

Ya intinya begitulah, maap kalo Pe.De.Ka.Te nya agak absurd dan masih banyak yang lebih absurd lagi yang ga lulus sensor oleh LSB (Lembaga Sensor Blog)

Salam manis,
Seseorang