Melenceng Dieng (440 km)

Walaupun matahari sudah menyembul, tapi pagi itu masih berasa dingin. Keluar kamar dan beranjak ke teras atas melihat pemandangan kota dieng pagi hari. Jangan salah, gue udah cumuk dan sigi dulu ya di kamar mandi pake air yang super duper dingin. Di penginapan pagi itu gue cuma berdua sama temen gue. Ternyata si temen-temen semarang udah berangkat ke bukit sikunir duluan sebelum shubuh kata temen gue. Oke, sambil lanjut nyeruput teh anget dan ngeliat anak-anak sd yang pada jalan kaki berangkat sekolah. Teh angetnya sih bikin lidah kepanasan tapi tetep aja bagian tubuh yang laen kedinginan kena semilir angin pagi. Anyway, di Dieng ini gue susah dapet sinyal internet, gatau kenapa, tapi gue agak susah kontak-kontakan via internet.

Dengan tidak punya itinerary yang detail, kami mencoba muter-muter dulu area sekitar penginapan. Kawah sikidang dan telaga warna kami kelilingi. Di kawah sikidang kita dapat melihat secara dekat kawah yang masih aktif dan mengeluarkan asap belerang. Di telaga warna kita dapat melihat telaga yang warnanya berbeda antara satu telaga dan telaga lainnya. Di situ juga ada goa pertapaan tetapi kita tidak dapat memasukinya hanya melihat dari luar saja. Belum sampai sore kita balik lagi ke penginapan. Ternyata temen-temen semarang ini cuma 1 malem 1 hari aja nginepnya. Untungnya mereka sempet bantuin nyari penginapan yang kosong buat kami dan alhamdulillahnya dapet. Di penginapan yang baru itu kami ketemu dengan wanita-wanita tangerang. Selanjutnya kami jalan bersama mereka di sisa travelling kami di Dieng.

Acara Dieng Culture Festival baru dimulai malam itu, malam minggu, tepat setahun yang lalu. Sayangnya kami berlima ga ada yang punya tiketnya. Pendaftaran udah ditutup karena kuotanya udah maksimum. Alhasil kami cuma jalan ke Candi Arjuna dan duduk-duduk. Padahal acara utama DCF nya ada di situ juga tapi harus masuk pake tiket. Malem itu candi arjuna dipenuhi oleh sekitar dua ribu orang, termasuk kami kami yang tidak kebagian tiket. Suara-suara musik mulai mengalun dan terlihat di atas langit lampion lampion mulai berterbangan. Karena kami tidak punya tiket dan tidak dapat masuk ke acara utama, kami mengitari area candi saja. Di salah satu sudut candi kami melihat orang-orang sedang berkumpul dan menerobos pinggir sawah untuk memasuki area acara utama yang tidak dijaga petugas. Kami pun mengikuti mereka dan voila, kami sudah duduk di tanah tepat di depan panggung jazz di atas awan. Di tengah kerumunan ribuan orang dan sambil mengikuti irama jazz, dinginnya malam Dieng yang bisa mencapai di bawah 0 derajat celcius menjadi tidak terlalu berasa.

Sambil mengeluarkan hape dan melihat berharap sinyal internet bersahabat, saya pun clingak-clinguk 360 derajat mencoba mencari pertanda. Ya, saya punya misi tertentu. Di tengah acara jazz di atas awan dan semakin banyak orang-orang yang menerbangkan lampionnya, saya beranjak dari tanah tempat saya duduk. Bagi saya 440 km hanya menjadi travelling biasa kalau tidak melakukan hal itu. Berjalan menyusuri sekitar garis belakang area acara utama, menyusupi orang-orang yang menerbangkan lampion, akhirnya jantung saya tambah berdegup kencang ditambah sedikit keringat dingin di kepala yang kalah dingin dengan cuaca malam Dieng. Saya menemukannya, melihatnya, mendekatinya, dan dia melihat saya. Kaget, pasti dia kaget, saya tau itu. Pertemuan dengannya yang tidak sampai semenit beserta ucapannya akan selalu menjadi memori. Dari ribuan orang di malam hari yang sangat meriah saya dapat menemukannya. Thanks God. Walaupun surprise dengan freak beda tipis sih.

DCF masih berlangsung sampai tengah malam. Bahkan setelah lampion-lampion habis diterbangkan dilanjut dengan pesta kembang api yang tak habis-habis. Tetapi karena sebelum shubuh kami harus berangkat ke bukit sikunir, kami memutuskan untuk cabut lebih dulu kembali ke penginapan. Singkat cerita, alarm berbunyi menunjukkan pukul 04.00. Kami yang baru tidur sekitar 2.5 jam langsung bergegas. Kenapa harus secepat itu ya? Tujuan dari ke Bukit Sikunir adalah melihat sunrise saat mencapai puncaknya. Bayangkan jika 2000 orang yang ada di DCF tadi malam semuanya ke sikunir, pasti bakal penuh sekali. Kami menggunakan motor untuk kesana dan memang kalau mengandalkan jalan kaki saja ternyata jauh juga. Perjalanan kami masih menuju ke desa yang lebih tinggi lagi. Saya ralat, desa paling tinggi di Dieng Plateau. Sampai di tempat kami harus memarkir motor dan itu merupakan awal penanjakan, kami disuguhi oleh pemandangan danau yang sangat luas dan begitu indah. Di pinggiran danau terlihat tenda-tenda camping yang saya kira itu punya orang-orang yang lebih dulu menanjak. Benar sajalah yang saya bilang tadi, saking banyaknya orang yang ke bukit Sikunir, penanjakan menjadi macet dan lama. Dan ketika kami sudah sedikit lagi mencapai puncak, sunrise akan terjadi sebentar lagi. Saya baru ingat kalau saya belum sholat shubuh sehingga saya buru-buru turun ke tempat yang dijadikan musholla, dan kami mulai berpencar. Jadinya saya tidak mendapatkan pemandangan awal sunrise. Sesampainya kami di puncak Sikunir, Allahu Akbar, begitu indahnya. Kita dapat melihat gunung-gunung lain yang saling berjajar, dimana gunung sumbing menjadi gunung yang jaraknya paling dekat. Lumayan lama kami di sini sambil menikmati pemandangannya.

Turun dari Bukit Sikunir kami kembali ke penginapan. Sebenernya masih ada lanjutan acara lagi dari DCF yaitu prosesi pencukuran rambut anak gimbal. Tetapi karena kami kurang tidur, kami memilih untuk tidur saja menghabiskan siang. Minggu sore saya dan teman saya kembali ke Cirebon dan berpisah dengan temen-temen Tangerang. Oh iya, sepanjang hari minggu itu Dieng Plateau macet total. Entah bagaimana Pemda mengatur lalu lintasnya, tetapi menurut kami, sistem arah laju kendaraan bisa dibuat satu arah sepanjang DCF berlangsung. Apalagi DCF ini merupakan acara tahunan, harusnya mereka bisa melakukan evaluasi.

Melenceng Dieng checked. Tahun ini kemana ya?

Advertisements