Melenceng Dieng (ide agak gila)

Gue pernah liat quote di instagram yg tulisannya “the unexpected moment is always sweeter”. Hmm..maybe not always sweeter, but nice actually, eventhough that’s worst moment. I mean nice with two difference intonation ahahaha.

By the way, salah satu unexpected moment gue taun lalu adalah “Dieng”. Kalo bicara tentang suatu daerah, pasti ga jauh jauh dari travelling dong, yeay! Sebenernya travelling ke dieng itu ga ada di planning gue, dan malahan diajakin temen travelling ke Bali selama seminggu di waktu yang berdekatan. Singkat cerita, akhirnya gue lebih milih travelling ke dieng dengan misi tertentu.

Kalo biasanya gue ikutan open trip untuk travelling gitu, kali itu gue dan temen gue yang laen punya ide agak gila. Kami yang sama sama menyandang status pengacara bakal motoran dari Cirebon sampe Dieng. Dengan cuma ngandelin gmaps, kami langsung cabut abis jumatan sekitar jam 2 siang. Kalo itungan gmaps sampe Dieng Plateau bisa 4.5 jam melalui jalur pantura-Semarang. Aktualnya, matahari baru tenggelam kami masih di daerah Batang. Oke, waktunya mulur 2-3 jam masih bisa diterimalah ya, mungkin karena kecepatan kami ga konstan sesuai itungan gmaps, dan sempet istirahat bentar juga. Kami lanjutin perjalanan yang mulai naik ke daerah bukit-bukit.

Gue sebagai navigator masih tetep mantau gmaps. Jalan yang kami lalui masih bener dan secara jarak sebentar lagi bisa sampe Dieng Plateau. Tetapi lama kelamaan jalannya berubah menjadi berbatu-batu dan kami hanya mengandalkan lampu motor serta cahaya bulan sebagai penerangan di tengah hutan bukit itu. Hingga di daerah tertentu, jalan berbatu-batu tersebut menjadi licin dan penuh tanah merah yang membuat motor ga bisa lanjut jalan lagi. Uniknya, ada beberapa warga sekitar yang nawarin ke kami untuk ngebantuin bawa motor kami sampai ngelewatin trek impossible itu. Mereka juga bilang kalo untuk ke Dieng sedikit lagi sampe. Kami berpikir sejenak sambil ngeliat jam tangan yang udah nunjukin jam 8 malem. Akhirnya temen gue mutusin untuk ga lanjutin lewat jalan itu. Siapa yang tahu kalo setelah jalan tersebut jalannya udah lebih baik atau malah tambah buruk. Kami ga ambil resiko untuk masuk lebih jauh lagi ke daerah hutan hutan perbukitan di malam hari dengan kondisi jalan yang kami ga tau seperti apa.

6 jam kami tempuh seharusnya udah sampe Dieng, kalo menurut itungan gmaps, malahan kami turun dari bukit balik ke arah batang. Sambil memikirkan rencana selanjutnya, kami mencari tempat untuk mengisi perut. Kami berhenti di angkringan sambil bertanya ke penjual angkringan jalan menuju Dieng. Alhasil kami punya dua opsi, opsi pertama mencari penginapan di daerah pekalongan dan melanjutkan perjalanan besok pagi atau opsi kedua kami mencoba jalur alternatif malem itu juga tanpa mengetahui kondisi jalannya seperti apa.

Pelajaran banget kalo kita ga bisa ngandelin gmaps sepenuhnya. Jalan yang ditunjukin emang bener tapi kondisi aktualnya seperti apa itu ga bisa dibaca di gmaps. Dan waktu tempuh di gmaps itu ga bisa dijadiin patokan 100%. Unexpected moment yaa…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s