El-A (La), Er-I (Ri)…Lari

Kemarin pagi saya melakukan aktivitas yang akhir-akhir ini sudah menjadi rutinitas, jogging. Dulu-dulu mah abis shubuh tidur lagi kali, akumulasi kurang tidur selama weekdays, hahaha… Balik lagi ke jogging nih, lumayanlah dari ujung barat KBT sampai perempatan McD Duren Sawit bolak-balik *sombong*. KBT tahu kan? Yang selama ini kebanyakan orang bilang BKT, seharusnya yang benar sih KBT kalau menurut saya. Coba aja ya kepanjangan dari BKT itu kan Banjir Kanal Timur, terus bandingkan dengan kepanjangan dari KBT, Kanal Banjir Timur. Mana yang lebih masuk akal? Banjir untuk Kanal di bagian Timur atau Kanal untuk Banjir di bagian Timur.

Jogging, atau sebut saja berlari, olahraga yang tidak membutuhkan peralatan khusus dan paling mudah dilakukan, ya tinggal berlari saja. Namanya berlari, bukan berjalan. Jadi, dalam berlari sangat diusahakan tidak ada berjalannya sedikit pun. Kalau kata ayah saya, minimal kita berlari kecil kalau sedikit lelah atau kondisi lintasan yang tidak memungkinkan untuk berlari. Bagi saya, jika sedang berlari dan kemudian mulai beralih menjadi berjalan, the game was over.

Jika menghubungkan antara kecepatan berlari dengan jarak tempuh kita akan dapat membuat sebuah grafik, dimana jarak tempuh sebagai absis dan kecepatan berlari sebagai ordinat. Pada mulanya, grafik akan bergerak miring ke arah kanan atas. Biasanya pada titik tertentu grafik akan bergerak lurus konstan atau sebelumnya didahului dengan penurunan kecepatan dari titik puncak kecepatan. Dan grafik pasti berakhir dengan grafik bergerak miring ke arah kanan bawah yang menandakan kita mulai berhenti berlari dan kemudian beralih ke berjalan. Yang saya alami di tengah berlari biasanya bagian kaki mulai terasa pegal. Menurut saya itu adalah tantangan pertama berlari. Ingin rasanya berhenti berlari kalau kaki sudah terasa pegal. Tetapi kalau kita dapat bertahan sedikit lebih lama saja, pegal yang menghantui kaki akan mulai menghilang dan berganti dengan yang namanya mati rasa. Pada tahapan mati rasa ini saya dapat bergerak lurus dengan kecepatan konstan lebih lama. Selanjutnya tantangan kedua datang, nafas yang mulai terengah-engah. Bagaimana cara menghilangkan hal tersebut agar dapat berlari lebih lama. Yang pasti tidak perlu berlari sambil membawa tabung oksigen di punggung. Kunci yang saya pegang sampai sekarang adalah terus berlatih. Ya, terus berlatih berlari akan membuat pembiasaan bagi nafas kita, terkecuali bagi yang mempunyai penyakit pernafasan, saya tidak punya ilmunya. Yang saya alami di atas belum tentu dapat dipraktekkan buat yang lain ya. Don’t try this at home, please. But, you could try this at track, hehehe…

Pelajaran dari berlari bagi saya adalah semangat, semangat untuk meraih tujuan yang ingin dicapai. Saat kita sudah menetapkan tujuan tersebut, kita harus berlari meraihnya sampai batas maksimal kemampuan yang dapat dikeluarkan. Definisi semangat meraih tujuan dapat saya analogikan seperti bagaimana Siti Hajar – untuk yang beragama Islam pasti pernah mendengar kisah ini waktu kecil – berlari 7x bolak-balik antara bukit shafa dan bukit marwa untuk mencari air bagi anaknya Nabi Ismail.

Ayo berlari, asal jangan berlari dari kenyataan saja ya :))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s