Buku, Perpustakaan, dan Ruang Baca

Kemarin lusa saya main ke sebuah toko buku ternama di daerah Matraman. Seperti biasa, melihat-lihat buku baru, siapa tahu ada yang menarik untuk dibawa pulang. Sebelum masuk ke toko buku tersebut, di halaman parkir depannya ternyata sedang ada bazar buku murah yang diadakan toko buku tersebut. Melihat harganya yang menarik Rp 5.000-15.000, membuat saya akhirnya melipir ke bazar tersebut. Siapa tahu ada buku bagus yang terselip di antara tumpukan buku-buku itu yang tidak laku terjual, pikir saya. 1 jam berlalu, setelah leher sedikit pegal karena harus memiringkan kepala hampir 45 derajat, tidak ada satu buku pun dari timbunan buku berantakan itu yang dapat memaksa saya harus membelinya. Akhirnya saya keluar dari bazar tersebut dengan tangan hampa dan kemudian masuk ke toko buku tersebut, kembali ke niat awal.

Berbicara tentang buku, kita semua pasti pernah membeli buku atau paling tidak menerima hadiah buku dari orang lain atau setidaknya pernah meminjam buku teman untuk dibaca. Apa yang membuat Anda tertarik membaca buku? Suatu pengetahuan baru, menambah wawasan, atau sekedar penghilang kejenuhan? Kalau anda bertanya kepada saya, saya punya jawaban sendiri. Kenangan dan harapan.

Buku dapat menjadi sarana bagi saya untuk bertingkah sebagai time-traveller ke masa lalu, tanpa dapat mengubah keadaan waktu itu tentunya. Saya mempunyai perpustakaan sendiri yang menyimpan buku-buku tersebut. Anda semua saya rasa juga punya (if you know what I mean). Kita akan menata perpustakaan sedemikian rupa agar kita tidak kesulitan jika sewaktu-waktu mesti mencari buku tersebut. Meskipun terkadang kita butuh waktu juga untuk mencarinya. Dan kita tidak perlu berpikir ulang jika memang buku tersebut harus disimpan di dalam brankas tahan api.

Kenangan. Saya berjalan di antara rak-rak buku-Terhenti sejenak di suatu abjad-Skimming-Meraih suatu buku-Jatuh duduk bersandar di rak buku-Membukanya-Membacanya-Memejamkan mata-Tertawa kecil-Menutupnya. Saat saya membuka mata, dengan cepat tangan kanan saya merogoh smartphone di saku celana sembari tangan kiri mengambil alih menggenggam buku tersebut. Tersenyum, hanya itu reaksi yang dapat saya keluarkan setelah baru saja mengutak-atik smartphone. Bukan smartphone namanya kalau tidak dapat membantu kita mencari informasi tambahan dari suatu buku. Buku tersebut saya kembalikan ke raknya. Dan saya berpindah ruangan.

Harapan. Buku tidak hanya ada di ruang perpustakaan, melainkan juga ada di sini, di ruang baca. Tidak berbeda dengan rak-rak perpustakaan, di ruang baca pun terdapat susunan buku. Bedanya, susunan di sini masih rutin dibaca dan buku-buku ini masih diperbaharui isinya. Banyak waktu saya diluangkan di ruang baca dibandingkan di ruang perpustakaan. Layaknya harapan yang selalu diperjuangkan dan ditumbuhkembangkan, buku di ruang baca juga mesti rutin dibaca sampai akhirnya buku itu harus menerima takdirnya, berjejer bersama buku lain di rak perpustakaan.

Terinspirasi dari dia, yang telah membuat tertawa kecil dan tersenyum, yang kini berada di suatu abjad di rak perpustakaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s