Pondok Cina

“Depok satu, Pak!” Sambil menjulurkan tangan yang sedang memegang lembaran uang Rp 10.000,-. Petugas tiket yang berada di balik kaca segera mengambil uang yang ada di tangan saya dan memberikan saya sebuah kartu beserta uang kembalian. Setelah itu saya langsung menuju ke portal tiket dan kemudian menuju peron. Belum sempat juga duduk menunggu, kereta commuter menuju Bogor sudah memasuki stasiun. Saya langsung menaikinya dan berencana turun di Stasiun Pondok Cina.

UI, itulah kata yang akan saya sebut jika ditanya tentang Pondok Cina (selain stasiun dan Depok tentunya). Saya mengetahui Pocin –  singkatan dari Pondok Cina – dari 10 tahun yang lalu di saat kakak-kakak alumni SMA mengajak kami bermain ke kampusnya. Tempat pertama yang saya datangi adalah Masjid Ukhuwah Islamiyah, dengan pemandangan danau di dekatnya serta gedung rektorat nan megah menjulang tinggi yang terletak di seberang danau.

Semakin intens berinteraksi dengan kakak-kakak dari UI menyebabkan saya mendapatkan informasi tentang program studi di UI, dan yang pasti mulai menumbuhkan cita tentang berkuliah di UI Depok. Dulu saya memang tidak punya keinginan 100% untuk kuliah. Alasannya tidak lain adalah biaya kuliah. Tetapi bercita-cita memakai jaket kuning boleh dong. Mulai dari Akuntansi, Psikologi, sampai Ilmu Kepustakaan pernah saya idamkan. Teknik? Saya tidak berbakat di IPA dari kecil, tidak sedikit pun ingin kuliah di teknik (pikiran pada waktu itu).

Di kelas 2 SMA saya pernah mengikuti lomba kimia yang diadakan oleh TGP UI. Saat itu pertama kalinya saya bermain ke Fakultas Teknik, termasuk Mustek dan Kantek. Semenjak itu saya menambahkan cita untuk berkuliah di TGP UI, apalagi saya sudah terjebak di dunia IPA, walaupun tidak ada larangan untuk berkuliah di program studi pilihan IPS.

Di kelas 3 SMA saya sering sekali main ke UI Depok, mengitari semua fakultas dan gedung-gedungnya sambil berjalan kaki maupun menggunakan bikun. Entah kenapa di detik-detik terakhir saat saya memutuskan akan berkuliah atau tidak, UI Depok malah tidak terbesit sedikit pun untuk saya pilih. Dan akhirnya, saya tidak menjadi anak UI Depok.

Saat saya sedang berkuliah di Bandung, saya masih sesekali main ke UI Depok. Baik itu urusan himpunan mahasiswa ataupun mengunjungi teman SMA yang berkuliah di UI.

Pintu kereta commuter terbuka dan saya segera keluar dari kereta. Sampai juga saya di Stasiun Pocin. Memang UI Depok bukan “kampusku, rumahku”. Tetapi ketika tiba di Pocin dan akan memasuki kawasan UI, saya selalu teringat akan seberkas memori. Bahwa saya pernah hampir 3 tahun menggantungkan asa agar dapat beraktivitas di kampus ini, berangan menggunakan jaket kuning dan menjadi bagian dari mereka.

p.s. punya teman hidup anak UI Depok menarik juga 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s