Dimainkan atau memainkan

Halilintar, kora-kora, kicir-kicir, hysteria, dan tornado. Kira-kira apa yang terbayang dalam pikiran kita setelah mendengar kata-kata di atas? Ancol, Dufan, wahana, permainan. Ya..semuanya benar, tetapi yang ingin saya bahas sedikit di sini yaitu kata terakhir “permainan”.

Kita semua pasti pernah ke Ancol, tepatnya Dufan. Kalau belum pernah, segera rencanakan untuk berkunjung kesana *bukan maksud promosi*. Dan kita, yang sudah pernah ke Dufan, seharusnya sudah memainkan wahana-wahana yang disebutkan di atas. Eits, tunggu sebentar..”memainkan”, apakah itu kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Kata “memainkan” mewakili suatu kalimat aktif. Apakah kita benar-benar memainkan wahana tersebut. Coba pikir baik-baik, apakah kita merupakan subjek pelaku atau bukan? Kalau ya jawabannya, berarti kalian perlu menaiki wahana-wahana itu lagi dan berpikir ulang. Menurut saya, kita lebih tepat dikatakan sebagai objek penderita. Kita “dimainkan” oleh wahana-wahana tersebut (bukan bermaksud untuk menimbulkan citra negatif ke Dufan).

Kita sedang menduduki sebuah mesin di tengah jalan. Penunjuk kecepatan mengarah ke angka 40. Kaki kiri kita menekan logam yang sedang dipijak dan tangan kanan memutar karet silinder yang sedang digenggam. Penunjuk kecepatan langsung berubah dengan cepat sampai angka 80. Sambil meliuk-liukan tubuh, kita melewati kotak-kotak bergerak yang tersusun zig-zag tak beraturan. Bagi saya, kita sedang memainkan kendaraan bermotor. Kata “memainkan” yang mewakili suatu kalimat aktif. Kita benar-benar melakukan peran sebagai subjek pelaku.

Fungsi kata “memainkan” wahana dufan dengan kata “memainkan” kendaraan bermotor mempunyai kesamaan yaitu menunjukkan bahwa adrenalin kita sedang dipompa sekencang-kencangnya. Tetapi jika dilihat dari subjek dan objek akan berbeda. Saat kita memainkan wahana dufan, kita tidak mempunyai kendali penuh untuk mengontrol wahana tersebut. Bahkan sampai-sampai kita tidak dapat mengontrol umpatan yang keluar dari mulut kita. Syukur-syukur yang keluar dari mulut kita adalah berdoa meminta ampun kepada Tuhan (kalau begitu bisa jadi sarana ibadah tuh). Dengan menjadi objek penderita, batas adrenalin kita benar-benar ditantang seberapa kuat dan seberapa tahan tanpa dapat kita atur laju pompanya. Berbeda dengan saat kita memainkan kendaraan bermotor. Kita mempunyai kendali penuh untuk mengontrol kendaraan tersebut. Saat kita ingin mengetahui batas adrenalin yang kita punya maka melajulah secepat mungkin yang kita bisa. Rasakan adrenalin kita terpompa sekencang-kencangnya. Karena kita memegang kendali penuh tetaplah memperhatikan keselamatan. Terkadang saat perasaan kita sedang tidak baik, emosi memuncak dan menantang laju adrenalin kita. Memang emosi kita jadi tersalurkan dan perasaan menjadi lega sesaat, tetapi tetaplah berhati-hati. Jika kita tidak dapat mengontrol emosi, laju adrenalin yang semakin tinggi bisa jadi akan mengurangi kinerja syaraf kewaspadaan pada otak kita.

Baik memainkan atau dimainkan dalam arti sebenarnya, ada baiknya berdoa sebelumnya. Memang dalam memainkan kita memegang kendali penuh, tetapi kita tidak pernah dapat menerka faktor X yang menghampiri kita. Sedangkan dalam dimainkan, berharaplah kita tidak berada di waktu yang tidak tepat. Teknologi sudah menjadi tools untuk menjamin wahana yang memainkan kita, tetapi ingat teknologi juga buatan manusia dan dipastikan tetap ada cacat.

n.b. ini bukan tentang dimainkan dan memainkan dalam romantisme, lagi ga mood mellow-mellow -an

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s