Jeruk Bule

Di kuliah semester 8 saya sering sekali kembali ke Jakarta. Saat itu, saya sedang berada di Jakarta dan akan berangkat ke Bandung. Biasanya sih sering naik bus atau travel (dengan tarif mahasiswa tentunya), tetapi tidak kali ini. Saya pergi ke Stasiun Jatinegara dan membeli tiket kereta bisnis (saya lupa apakah waktu itu KA Bandung sudah menjadi satu KA Argo Parahyangan atau masih berpisah antara KA Argo Gede dengan KA Parahyangan).

Kereta datang dari arah barat memasuki stasiun, berhenti sesaat, kursi 14A pun saya duduki sambil melihat pemandangan luar yang dipisahkan oleh kaca. Kembali melihat ke dalam kereta sekilas, terlihat ada wanita yang mendekati saya, wanita berambut pirang. Ternyata dia duduk di sebelah saya, di kursi 14B.

Perjalanan kereta di atas rel menuju Bandung — setelah melewati stasiun cikampek — banyak dihiasi dengan pemandangan Bukit, sawah, dan jangan lupa dengan pemandangan jembatan Cipada yang berada di ruas tol Cipularang. Oke, kita kembali ke dalam kereta. Saya biasa membawa dan membaca buku di dalam perjalanan. Meskipun tidak kebanyakan orang suka membaca buku saat berada di dalam benda bergerak. Alasannya pasti dapat membuat mereka pusing. Selain membawa buku, saya sering sekali membawa bekal di dalam perjalanan, khususnya perjalanan yang memakan waktu agak lama. Kali ini yang saya bawa adalah jeruk, jeruk yang biasa kita sebut dengan Jeruk Bali. Jeruk yang saya bawa sudah diiris menjadi beberapa irisan. Ketika saya mengeluarkannya dari plastik dan ingin memakannya, kemudian saya lihat wanita pirang yang duduk di samping saya. Dari wajahnya dapat dipastikan bahwa dia bukan orang Indonesia.

“Do you want aaa…Balinese Orange?”, saya menawarkan jeruk bali dengan sempat berpikir sesaat bahasa inggrisnya Jeruk Bali apa ya dan membahasakannya secara asal… Kemudian dia tersenyum, berkata “Thanks..”, dan meraih Jeruk Bali yang saya tawarkan. Ketika Jeruk Bali sudah di tangannya, tiba-tiba langsung dia lahap beserta kulit-kulitnya. Sontak saya berkata “No..no..no…first you must open it and then you can eat it”, sambil memeragakan cara memakan Jeruk Bali. Dan akhirnya dia mengikuti saya. Setelah dia menghabiskan satu irisan jeruk, langsung saya tawarkan lagi dan dia hanya tersenyum saja tanpa mengambil irisan jeruk dari plastik yang ada di tengah kami.

Kira-kira, bagaimana ya rasanya makan Jeruk Bali beserta kulitnya? Ada yang mau coba? Tebak saya, rasanya ga jauh-jauh dari pahit, hahaha… Tapi berani juga si wanita bule langsung main lahap-lahap aja. Mungkin maksudnya untuk menghargai tawaran saya ya, apalagi waktu dia gigit, tidak ada respon kaget atau sedikit berteriak bahwa rasanya pahit. Atau memang dia sudah biasa memakan makanan berasa pahit, hehe… Dan yang jadi pertanyaan lain (yang sampai sekarang belum terjawab) adalah bahasa inggrisnya Jeruk Bali tuh apa ya, hmm…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s