“TV Hitam-Putih” vs “TV berwarna”

Bangun pagi lanjut mandi terus sarapan dan kemudian siap-siap berangkat kerja. Menikmati macet jalan raya ditemani suara penyiar radio dan sederet lagu hingga sampai di tempat kerja. Say hi and good morning pada rekan kerja, duduk di depan meja kerja, menyusun schedule kerja, eksekusi sampai jarum pendek sudah bergerak menyinggahi 7 angka. Pulang kerja dengan lagi-lagi menikmati macet jalan raya ditemani suara penyiar radio dan sederet lagu. Sampai rumah, mandi-makan-istirahat menjadi aktivitas yang autopilot. Dan di penghujung hari ditutup dengan tidur. Keesokan hari, rangkaian aktivitas dimulai dari atas kembali dan dilanjutkan persis sesuai dengan deskripsi di atas. Hal tersebut berulang selama weekdays dan dilabeli sebagai rutinitas. Begitulah yang dialami oleh karyawan/ti lajang di sekitaran ibukota dengan umur 20-an. Paling tidak cerita di atas dapat dijadikan suatu template dengan tambahan aktivitas yang bervariatif antar satu sama lain.

Itu baru bercerita tentang weekdays saja. Bagaimana dengan weekend? Kebanyakan mereka akan memilih untuk beraktivitas yang bertujuan pada refreshing. Walaupun ada segelintir yang mencari bisnis ataupun kerja sampingan. Refreshing lebih banyak diartikan sebagai hiburan. Andaikata saya menganalogikan hiburan menjadi televisi (TV), dimana TV merupakan salah satu sarana hiburan, maka terdapat dua jenis TV. Refreshing yang dilakukan oleh karyawan/ti lajang, baik di weekdays setelah pulang kerja maupun seharian penuh di weekend, saya analogikan menjadi jenis TV yang pertama, yaitu TV hitam-putih. Eh..sebentar, maksud saya lajang yang single (jomblo) ya. Kembali lagi ke TV hitam-putih, bagaimana penampakan isinya? Yap, hitam putih. Ya itu aja, hitam putih. Coba direfleksikan ke refreshing -nya si lajang yang single. Bagaiman rasanya? Penat hilang, senang datang. Terus kemudian bagaimana? Ya penat hilang, senang datang. Tuh kan, macam TV hitam-putih ya…

Jenis TV yang kedua lebih modern nih, yaitu TV berwarna. Refreshing yang dilakukan oleh karyawan/ti lajang ini mungkin tidak jauh berbeda dengan jenis TV yang pertama. Akan tetapi, untuk jenis TV berwarna ini ditujukan kepada karyawan/ti lajang yang sedang mempunyai pasangan (baik dengan status maupun tanpa status). Bagaimana rasanya refreshing mereka? Penat hilang, senang datang. Tidak hanya senang yang datang, kadang canda, kadang tawa, kadang sedih, kadang kesal, kadang semangat, kadang bete. Mirip dengan penampakan TV berwarna, warna yang keluar tidak hanya hitam dan putih, melainkan berwarna-warni. Saat kita menonton pertandingan sepakbola dengan TV berwarna, kita akan mengetahui kalau warna kostumnya AC Milan itu merah-hitam, kostumnya Inter Milan itu biru-hitam, dan Juventus itu putih-hitam. Akan terlihat sama saja warnanya jika menonton dari TV hitam-putih. Begitu pula dengan adanya pasangan, refreshing yang kita lakukan bersamanya akan memunculkan perasaan yang bermacam-macam buat kita juga.

Lalu, anda mau refreshing dengan TV hitam-putih atau TV berwarna?

NB : analoginya tampak maksa ya :))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s