Eufoni Hujan

Derasnya hujan akan selalu mengingatkanku
Pada saat basah kuyup menunggu di depan pintu
Dia menyusul muncul merekah senyum di hadapanku

Gemericik air hujan di parit akan selalu mengingatkanku
Bagaimana kami membuka pintu dan melihat seisi rumah
Bukan rumah megah tanpa celah yang kami tuju
Melainkan bangunan yang tak terbebas dari lantai basah

Tetesan air hujan di atas genteng akan selalu mengingatkanku
Dengannya yang memegang tongkat pel tanpa ragu
Menyeka genangan bersama kain lap yang ada di tanganku

Rintik-rintik hujan akan selalu mengingatkanku
Tentang apa yang kualami dengannya, menatap matanya
Mendengar tawanya, menikmati senda gurau
Layaknya memainkan adegan cerita rencana semesta

Hujan akan terus mengingatkanku pada kalimatnya yang indah
Bahwa hujan tidak hanya melulu membawa musibah
Tetapi hujan juga dapat membawa berkah

Dan bersamanya aku menanti pelangi setelah hujan berlari

Di suatu rumah, 12 Desember 2013

Advertisements

Mungkin saja kita sedang tak sendirian

Saya masih ingat sekali peristiwa malam itu. Salah satu lampu kamar di kontrakan The Ninings masih menyala dan pintunya terbuka. Kami berempat yang masih terjaga sedang asyik bermain game PC football manager. Saat jam dinding menunjukkan hampir pukul 2 pagi Waktu Indonesia Bagian Bandung, kami menyudahi permainan dan kembali ke kamar masing-masing, termasuk saya. Lampu kamar saya matikan dan langsung berbaring di kasur. Rasa saya belum lama memejamkan mata, mata saya kembali terbuka. Penglihatan tertuju ke sisi tengah kamar, terlihat seorang anak kecil yang sedang duduk dengan posisi kepala dan kaki yang aneh. Saya coba berteriak sekencang-kencangnya sebagai respon perasaan kaget tetapi tidak sedikitpun suara tersebut terdengar keluar dari mulut saya. Berusaha untuk membangunkan diri tetapi apa daya sekujur badan terasa kaku dan tidak dapat digerakkan. Kekakuan itu mungkin terjadi selama 1-2 menit. Setelah itu saya dapat memejamkan mata dan membukanya kembali. Anehnya, sesosok anak kecil itu tidak terlihat lagi dan tubuh saya dapat digerakkan kembali. Langsung saja saya menyalakan lampu kamar, keluar dari kamar dan mengetuk pintu kamar teman saya untuk menumpang tidur di kamarnya. Semenjak peristiwa itu, hampir 2 tahun saya tidur di kamar tanpa mematikan lampu kamar. Di masa libur kuliah, saya sering sekali tinggal di kontrakan sendirian. Sudah kamar terletak di ujung lorong atas, pulang malam pun selalu disambut dengan kegelapan lorong yang lampunya tidak dihidupkan dari waktu maghrib oleh si bibi. Untungnya, saya tidak melihat sosok anak kecil atau sosok yang lain.

Apa yang saya alami di atas banyak dikomentari oleh teman-teman saya sebagai “ketibanan” (bahasa yang disebutkan beberapa orang) atau semacamnya. “Ketibanan” sering terjadi oleh beberapa orang, dimana orang tersebut hanya dapat melihat, tidak dapat berbicara dan bergerak. Mendengar hal itu saya hanya dapat mengangguk saja tanpa dapat membantah komentar mereka. Jika memang yang saya alami adalah mimpi, bagaimana mimpi mempunyai setting yang sama dengan keadaan saya sebelum tertidur dan apa yang saya lihat benar-benar jelas, bahkan sampai sekarang. Sedangkan mimpi-mimpi yang saya alami sebelumnya selalu mempunyai setting yang acak tak beraturan dan ketika bangun mimpi tersebut cepat sekali terlupakan, baik itu mimpi yang baik maupun yang buruk.

Pernah terjadi satu anomali dari karakteristik mimpi saya. Saya katakan mimpi karena memang saya akui saya sudah tertidur, berbeda dengan peristiwa di atas. Peristiwa yang ini saya alami waktu di kost daerah Karawang, semasa kerja praktek. Saya yang sedang tidur tiba-tiba mata terbuka dan penglihatan mengarah ke jendela kamar (ini masih mimpi walaupun mempunyai setting yang sama dengan keadaan sebelum tertidur). Dari luar jendela tersebut terlihat sesosok wanita berpakaian putih sedang berdiri melihat ke dalam, tidak jelas apakah itu wanita tua atau muda. Kemudian wanita tersebut mulai merayap ke jendela dan berusaha memasuki kamar kami melalui jendela. Saya yang melihat itu berusaha membangunkan kedua teman saya yang tidur di samping saya. Entah kenapa tubuh saya tidak dapat bergerak dan ketika saya berteriak tidak ada sedikit pun suara yang keluar. Ternyata wanita tersebut sudah berada di dalam kamar saya dan tiba-tiba kembali saya terbangun dari mimpi saya. Keesokan malamnya, saya mengajukan perubahan posisi tidur ke teman-teman saya setelah menceritakan mimpi saya malam kemarin ke mereka. Mereka menerimanya dan malam itu saya tidur lebih dahulu dibanding mereka. Di awal tidur, menurut cerita mereka keesokan paginya, saya mengigau sambil menunjuk ke sisi ujung kamar di sebelah teman saya sedang berbaring tiduran. Saya bertanya tentang siapa orang keempat yang ada di antara kami di kamar tersebut. Nyatanya, kami hanya bertiga dalam satu kamar.

Peristiwa-peristiwa di atas hanya sebagian kejadian (agak) aneh yang saya alami, masih ada beberapa peristiwa lain yang dapat diceritakan tetapi akan saya ceritakan lain waktu. Saya sebagai muslim mempercayai bahwa ada makhluk Allah yang berjenis jin, dimana jin merupakan makhluk gaib. Mirip seperti malaikat, jin dapat mengubah wujudnya menjadi makhluk nyata seperti manusia (nyata dan gaib ini mungkin dipersepsikan dari penglihatan mata manusia karena manusia sebagai objek dari kitabullah). Jika ada manusia yang berkata dapat melihat jin dalam wujud aslinya, pasti dia berdusta atau malah dia yang tertipu. Hal ini jelas dikabarkan oleh Allah dalam kitabnya di surat Al-A’raf ayat 27. Akan tetapi, dengan kemampuan mengubah wujudnya, jin dapat terlihat oleh kita, termasuk sahabat Rasulullah, Abu Hurairah yang diganggu saat menjaga zakat umat Islam. Dari situ saya coba menyimpulkan bahwa (mungkin saja) peristiwa yang saya alami merupakan bentuk gangguan dari jin, baik secara penglihatan seperti di atas, pendengaran, maupun rasa was-was. Awalnya memang kaget ketika mengalami peristiwa tersebut tetapi setelah itu langsung tidak saya tanggapi dan segera saya tinggalkan. Saya sendiri lebih senang menyebutnya sebagai “lagi diisengin”. Oleh karena itu berusahalah untuk selalu memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan mereka, karena mungkin saja kita sedang tak sendirian.

Dimainkan atau memainkan

Halilintar, kora-kora, kicir-kicir, hysteria, dan tornado. Kira-kira apa yang terbayang dalam pikiran kita setelah mendengar kata-kata di atas? Ancol, Dufan, wahana, permainan. Ya..semuanya benar, tetapi yang ingin saya bahas sedikit di sini yaitu kata terakhir “permainan”.

Kita semua pasti pernah ke Ancol, tepatnya Dufan. Kalau belum pernah, segera rencanakan untuk berkunjung kesana *bukan maksud promosi*. Dan kita, yang sudah pernah ke Dufan, seharusnya sudah memainkan wahana-wahana yang disebutkan di atas. Eits, tunggu sebentar..”memainkan”, apakah itu kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Kata “memainkan” mewakili suatu kalimat aktif. Apakah kita benar-benar memainkan wahana tersebut. Coba pikir baik-baik, apakah kita merupakan subjek pelaku atau bukan? Kalau ya jawabannya, berarti kalian perlu menaiki wahana-wahana itu lagi dan berpikir ulang. Menurut saya, kita lebih tepat dikatakan sebagai objek penderita. Kita “dimainkan” oleh wahana-wahana tersebut (bukan bermaksud untuk menimbulkan citra negatif ke Dufan).

Kita sedang menduduki sebuah mesin di tengah jalan. Penunjuk kecepatan mengarah ke angka 40. Kaki kiri kita menekan logam yang sedang dipijak dan tangan kanan memutar karet silinder yang sedang digenggam. Penunjuk kecepatan langsung berubah dengan cepat sampai angka 80. Sambil meliuk-liukan tubuh, kita melewati kotak-kotak bergerak yang tersusun zig-zag tak beraturan. Bagi saya, kita sedang memainkan kendaraan bermotor. Kata “memainkan” yang mewakili suatu kalimat aktif. Kita benar-benar melakukan peran sebagai subjek pelaku.

Fungsi kata “memainkan” wahana dufan dengan kata “memainkan” kendaraan bermotor mempunyai kesamaan yaitu menunjukkan bahwa adrenalin kita sedang dipompa sekencang-kencangnya. Tetapi jika dilihat dari subjek dan objek akan berbeda. Saat kita memainkan wahana dufan, kita tidak mempunyai kendali penuh untuk mengontrol wahana tersebut. Bahkan sampai-sampai kita tidak dapat mengontrol umpatan yang keluar dari mulut kita. Syukur-syukur yang keluar dari mulut kita adalah berdoa meminta ampun kepada Tuhan (kalau begitu bisa jadi sarana ibadah tuh). Dengan menjadi objek penderita, batas adrenalin kita benar-benar ditantang seberapa kuat dan seberapa tahan tanpa dapat kita atur laju pompanya. Berbeda dengan saat kita memainkan kendaraan bermotor. Kita mempunyai kendali penuh untuk mengontrol kendaraan tersebut. Saat kita ingin mengetahui batas adrenalin yang kita punya maka melajulah secepat mungkin yang kita bisa. Rasakan adrenalin kita terpompa sekencang-kencangnya. Karena kita memegang kendali penuh tetaplah memperhatikan keselamatan. Terkadang saat perasaan kita sedang tidak baik, emosi memuncak dan menantang laju adrenalin kita. Memang emosi kita jadi tersalurkan dan perasaan menjadi lega sesaat, tetapi tetaplah berhati-hati. Jika kita tidak dapat mengontrol emosi, laju adrenalin yang semakin tinggi bisa jadi akan mengurangi kinerja syaraf kewaspadaan pada otak kita.

Baik memainkan atau dimainkan dalam arti sebenarnya, ada baiknya berdoa sebelumnya. Memang dalam memainkan kita memegang kendali penuh, tetapi kita tidak pernah dapat menerka faktor X yang menghampiri kita. Sedangkan dalam dimainkan, berharaplah kita tidak berada di waktu yang tidak tepat. Teknologi sudah menjadi tools untuk menjamin wahana yang memainkan kita, tetapi ingat teknologi juga buatan manusia dan dipastikan tetap ada cacat.

n.b. ini bukan tentang dimainkan dan memainkan dalam romantisme, lagi ga mood mellow-mellow -an

Coincidence, do you belief?

Coincidence, do you belief?
Hmm…I don’t think so

Apabila ada dua orang yang saling kenal dan masing-masing ingin ke toko buku keesokan harinya, kemudian bertemu di toko tersebut merupakan suatu kebetulan?

Jika ada dua orang yang belum pernah kenal sebelumnya, bertemu di satu acara yang sama, berkenalan dan kemudian mengobrol juga merupakan suatu kebetulan?

Saya rasa tidak, semua kejadian yang kita alami tampaknya memang dan akan selalu ada campur tangan dari invisible hands (baca : Allah Maha Berkehendak), entah itu menjadi ketidaksengajaan yang kita alami atau sebenarnya terdapat unsur rekayasa dari manusia itu sendiri.

Lalu, ada gerangan apa kita harus mengalami kejadian-kejadian tersebut, kejadian dengan orang lain yang kadang memberikan rasa suka dan kadang pula memberikan rasa duka. Semua manusia pasti pernah merenung dan mempertanyakan hal tersebut. Yang pasti akan ada selalu hikmah di balik kejadian tersebut, jika engkau menyadari dan mengetahuinya.

Menurutnya, kejadian yang kita alami dengan orang lain, baik dengan siapa ataupun bagaimana caranya, percayalah bahwa Tuhan mengirim mereka untuk mengajarkan kita sesuatu, apapun itu (DA, 2014).

So, what should we doing now?
Let it flow 🙂

*kontemplasi orang suka copas*

Jeruk Bule

Di kuliah semester 8 saya sering sekali kembali ke Jakarta. Saat itu, saya sedang berada di Jakarta dan akan berangkat ke Bandung. Biasanya sih sering naik bus atau travel (dengan tarif mahasiswa tentunya), tetapi tidak kali ini. Saya pergi ke Stasiun Jatinegara dan membeli tiket kereta bisnis (saya lupa apakah waktu itu KA Bandung sudah menjadi satu KA Argo Parahyangan atau masih berpisah antara KA Argo Gede dengan KA Parahyangan).

Kereta datang dari arah barat memasuki stasiun, berhenti sesaat, kursi 14A pun saya duduki sambil melihat pemandangan luar yang dipisahkan oleh kaca. Kembali melihat ke dalam kereta sekilas, terlihat ada wanita yang mendekati saya, wanita berambut pirang. Ternyata dia duduk di sebelah saya, di kursi 14B.

Perjalanan kereta di atas rel menuju Bandung — setelah melewati stasiun cikampek — banyak dihiasi dengan pemandangan Bukit, sawah, dan jangan lupa dengan pemandangan jembatan Cipada yang berada di ruas tol Cipularang. Oke, kita kembali ke dalam kereta. Saya biasa membawa dan membaca buku di dalam perjalanan. Meskipun tidak kebanyakan orang suka membaca buku saat berada di dalam benda bergerak. Alasannya pasti dapat membuat mereka pusing. Selain membawa buku, saya sering sekali membawa bekal di dalam perjalanan, khususnya perjalanan yang memakan waktu agak lama. Kali ini yang saya bawa adalah jeruk, jeruk yang biasa kita sebut dengan Jeruk Bali. Jeruk yang saya bawa sudah diiris menjadi beberapa irisan. Ketika saya mengeluarkannya dari plastik dan ingin memakannya, kemudian saya lihat wanita pirang yang duduk di samping saya. Dari wajahnya dapat dipastikan bahwa dia bukan orang Indonesia.

“Do you want aaa…Balinese Orange?”, saya menawarkan jeruk bali dengan sempat berpikir sesaat bahasa inggrisnya Jeruk Bali apa ya dan membahasakannya secara asal… Kemudian dia tersenyum, berkata “Thanks..”, dan meraih Jeruk Bali yang saya tawarkan. Ketika Jeruk Bali sudah di tangannya, tiba-tiba langsung dia lahap beserta kulit-kulitnya. Sontak saya berkata “No..no..no…first you must open it and then you can eat it”, sambil memeragakan cara memakan Jeruk Bali. Dan akhirnya dia mengikuti saya. Setelah dia menghabiskan satu irisan jeruk, langsung saya tawarkan lagi dan dia hanya tersenyum saja tanpa mengambil irisan jeruk dari plastik yang ada di tengah kami.

Kira-kira, bagaimana ya rasanya makan Jeruk Bali beserta kulitnya? Ada yang mau coba? Tebak saya, rasanya ga jauh-jauh dari pahit, hahaha… Tapi berani juga si wanita bule langsung main lahap-lahap aja. Mungkin maksudnya untuk menghargai tawaran saya ya, apalagi waktu dia gigit, tidak ada respon kaget atau sedikit berteriak bahwa rasanya pahit. Atau memang dia sudah biasa memakan makanan berasa pahit, hehe… Dan yang jadi pertanyaan lain (yang sampai sekarang belum terjawab) adalah bahasa inggrisnya Jeruk Bali tuh apa ya, hmm…

“Di Sebuah Ruang Tunggu”

Sesekali ngegalau ah.. :))
Ga sengaja nemu tulisan di bawah ini. Tulisan yang dikutip dari sebuah buku “Love Fool”.
Tulisan ini merupakan karya dari Cepi Komara atau biasa disebut Pengamen Cinta (Nama pena-nya)

Aku tak bisa buka pintu hatimu
Karena kau yang pegang kuncinya
Namun ku coba tuk mengetuknya juga
Agar kau bersedia terbuka membuka dan menyambut cintaku dengan mesra
Tanpa ragu atau paksa

Dan bukanlah salah kita apabila
Ada yang masuk lebih dulu tanpa diduga kuduga
Kemudian mencuri perhatianmu

Aku hanya dapat menunggu di beranda jiwa
Di sebuah ruang kosong yang hampa
Berharap suatu saat
Kau akan menyambut dan memanggil namaku
Lalu menyapaku dalam penantian
Dan kaupun memanggilku seraya berkata:

“Mari masuk ke dalam hatiku,
tak ada siapa-siapa di sana!”

* Ada redaksi yang saya ganti karena menurut saya kurang tepat penggunaannya.
* Kata yang dicoret merupakan redaksi asli, sedangkan kata yang dicetak tebal merupakan revisi dari saya.

Gimana? cukup ngegalau kan, hahaha…
Buat yang jadi orang ketiga, don’t worry bro, tetap konsisten.
Biar dia yang menentukan ending-nya apakah tetap bersama orang yang lebih dulu atau bersama engkau si orang ketiga.

Kalau kata NAIF mah,
Kalau jodoh takkan lari kemana
Kalau tak jodoh, kita hanya jadi kawan