Obrolan Akhir Tahun Bersama Atasan

“Kalau dalam permainan sepakbola, saya belum mengeluarkan kemampuan saya secara optimal”, dan atasan saya pun tersenyum mendengar hal itu.

Sore hari, sudah melewati jam pulang kerja, seperti biasa, saya belum pulang dan kemudian ditahan atasan waktu itu untuk jangan pulang dulu, hmm…tanda panggilan untuk menghadap ke mejanya. Eh ternyata tidak hanya saya saja yang diminta menghadap, rekan kerja yang lain pun mengalami hal yang sama. “Ini panggilan rutin akhir tahun toh”, pikir saya, baru nyadar, hehe..

“Bagaimana kerja di sini?” pertanyaan yang dikeluarkan atasan ketika saya sedang menghadap ke mejanya. “Kalau dalam permainan sepakbola, saya belum mengeluarkan kemampuan saya secara optimal”. Dan saya pun menyambut dengan pertanyaan baru, “Dari Bapak sendiri apakah ada masukan sebagai bahan evaluasi saya selama bekerja di sini?”.

Si Bapak mengingatkan bahwa seperti dalam permainan sepakbola, kita tidak bisa bermain sendirian, dibutuhkan kerjasama tim, begitu juga dengan saya, harus dapat meningkatkan teamwork dengan section & department lain yang kerjanya berkaitan. Dan ini kalimat yang saya masih ingat sampai sekarang dari si Bapak, “Yang perlu diperhatikan yaitu PDCA dijalankan secara baik, nanti result akan mengikutinya. Jika ingin result yang baik tapi PDCA tidak dijalankan dengan baik, ya tidak akan menghasilkan result yang baik nantinya”. PDCA teh naon? Wah, saya jadi punya hutang untuk menjelaskannya nih..

Sedikit pandangan dari beliau, walaupun terkesan pragmatis, tapi ada benarnya juga sih. Si Bapak menjelaskan bedanya sekolah dengan bekerja. Di sekolah itu jika kita diberikan nilai 100 itu nilainya bagus, bahkan 80 pun juga sudah bagus, kenapa? karena kita yang membayar sekolah. Sedangkan dalam bekerja jika mendapatkan nilai 100 itu baru cukup, kenapa? karena kita dibayar 100 juga oleh perusahaan. Nilai 100 itu perhitungannya baru balik modal bagi perusahaan, makanya nilai yang bagus itu lebih dari 100. Intinya mah, kita harus memberikan hasil yang bagus & benefit yang lebih buat perusahaan, tidak hanya mencukupkan pada selesainya pekerjaan yang kita lakukan.

Terakhir dari si Bapak, “Kalau ada permasalahan, langsung cerita saja, anggap saya teman, bukan sebagai atasan bawahan. Perbedaan saya dengan kamu hanya saya lahir lebih dulu”. Memang saya pun kagum sama atasan yang satu ini, pintar, ganteng, dan low profile pula. Beliau pun membuat style berpakaian sendiri, yang ini malah jadi diikuti oleh staf-staf di departemennya, termasuk saya :D. Baju kerja dibuka sebagian kancing atasnya dengan menunjukkan adanya dalaman kemeja lain, celana jeans, dan jam tangan. He is Mr. M. Saleh Daulay, Dept. Head of Engineering

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s