Hujan di Januari

Januari kemarau?
Bukan…
Januari itu penghujan
Hafalan yang pernah kita dapatkan waktu SD di pelajaran IPS

Januari pakaian kebasahan?
Iya..
Keringatan saking lelahnya bekerjakah?
Belum…
Kebasahan ini karena kehujanan saat berangkat kerja
Basah kuyup yang sering mereka dapatkan saat tidak membawa payung ataupun jas hujan

Hujan di Januari…
Kamu senang atau sedih?
Senang ya, kalau begitu saya juga ikut senang…
Saya senang atau sedih?
Sedih sih, tapi kamu tak perlu ikut sedih kan…

Hujan di Januari…
Dingin, suasana sekitar menjadi dingin…
Perasaan saya sekarang juga menjadi dingin…

“There is always a way for love
But sometimes not on the same road
Dreaming is the only land
Fits for you and me”

Kesal saya…
Tapi yang mereka tulis juga tidak salah
Yang salah adalah saya

Awal Januari…
Sebongkah perasaan, disimpan di dalam peti, digembok tanpa kunci di tangan
Dikubur tanpa diberi tanda, biar saya sendiri pun tidak mudah menemukannya lagi

Akhir Januari…
Waktu yang tepat untuk meninggalkan semuanya
Walaupun hujan belum tentu selesai di saat Januari usai

Seberkas memori…
Hujan di Januari

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Kan Udah Ada Allah [Blog Repost]

[Blog Repost] pekan ini diambil dari sebuah kisah inspiratif singkat, semoga dapat menginspirasi

———————————————————————————————————————————–

Kisah kali ini menceritakan tentang seorang malaikat kecil yang harus berjuang mati-matian melawan penyakit yang dideritanya …

” Bunda … ” panggil seorang anak perempuan

” Eh anak bunda yang manis udah pulang … ” sahut bunda

Mereka terlihat akrab sekali …

Suatu hari, tiba-tiba Sifa (malaikat kecil) jatuh pingsan di halaman rumahnya yang berada di kaki gunung merapi saat sedang asyik bermain. Tak ada siapa-siapa … , sifa pun harus menunggu disana selama dua puluh menit sampai sang bunda datang untuk menolong dan menggendong tubuhnya menuju kamar kesayanganya.

Rupanya kala itu kanker otak yang diderita Sifa kambuh …

” Sifa … bangun nak … “

” Ayo dong sifa bangun … , jangan buat bunda khawatir … ” tambah bunda

Selama kurang lebih setengah jam Sifa berbaring diranjangnya, akhirnya mata malaikat kecil itu pun terbuka.

” Bunda, Sifa dimana ? Sifa pingsan lagi ya bunda ? ” tanya Sifa

” Kamu di kamar, mungkin tadi kamu terlalu lelah aja, lain kali kalo main jangan lama-lama ya … “

” Iya bunda … maafin Sifa yang udah buat bunda khawatir “

” Yaudah, kamu istirahat ya, bunda mau bikin makan siang dulu buat kamu “

Bunda pun beranjak keluar meninggalkan sang malaikat kecil di kamarnya. Satu jam kemudian, pintu kamar Sifa terbuka kembali. Oh … rupanya sang bunda datang …

” Sifa … makanan udah siap ” kata bunda

Sifa tak menjawab …

” Sifa bangun sayang … ” tambah bunda yang perlahan menghampiri

Namun saat mendekat, sang bunda terkejut. Terlihat aliran darah keluar dari lubang hidung Sifa. Bunda pun berusaha sebisanya untuk menolong anak satu-satunya itu. Tapi terlambat … nyawa Sifa sudah tak tertolong lagi …

Air mata mengalir membanjiri pipi sang bunda. Dan tak henti-hentinya ia menangis kala itu.

Hari pemakaman pun tiba, tangis yang sebelumnya reda, kini kembali menyeruak saat jasad Sifa diturunkan ke liang kuburnya. Semua yang hadir disana merasa kehilangan seorang sosok malaikat kecil yang baik hati.

Kepergian Sifa tak lantas membuat semua kenangan bersamanya hilang dalam pikiran sang bunda.  Kenangan indah bersama Sifa benar-benar telah terpatri di pikiran sang bunda. Sampai suatu hari … , kenangan itu mengantarnya kembali ke kamar Sifa hanya untuk sekedar melepas rindu.

Tak sengaja ia menjatuhkan tumpukan buku yang tersusun rapi di atas meja belajar. Terlihat secarik kertas terselip diantara buku-buku itu. Diambilah kertas itu … goresan tinta sang malaikat kecil pun jelas terlihat disana …

—————————————————————————————————————————————————-

Dear Bunda …

Makasih bunda, udah rawat aku dari kecil …

Makasih bunda, udah sayang ama Sifa selama ini …

Sifa minta maaf belum bisa bahagia.in bunda …

Sifa juga minta maaf selalu buat bunda khawatir …

Mungkin … selama ini Sifa cuma jadi beban bunda aja …

Sifa tahu umur Sifa udah ngga lama lagi …

Dan mungkin pas bunda baca surat ini, Sifa udah ngga ada …

Udah takdir Sifa kali hidup bareng penyakit ini …

Makanya … , bunda jangan sedih yaa …

Sifa aja ngga sedih, jadi Sifa mohon bunda jangan sedih …, apalagi nangis  …

Tetep kuat seperti bunda yang aku kenal biasanya …

Yang pantang menyerah dalam menghadapi kerasnya hidup …

Oh iya … hampir aja aku lupa …

Mulai sekarang … bunda ngga usah khawatirin aku lagi …

Kan udah ada Allah yang ngejaga.in ku disini …

—————————————————————————————————————————————-

Kisah yang menyentuh, walaupun mungkin kisah seperti ini umum kita temui dan pernah kita baca..

Saya membaca dan mengambilnya dari http://rianriskipratama.wordpress.com/2012/01/14/kan-udah-ada-allah/

Seorang anak kecil (baca: Sifa) berusaha menenangkan Sang Bunda dengan tulisannya. Memang tidak ada yang abadi di dunia ini selain Allah, bahkan “perubahan” pun belum tentu bisa. Di mana ada perjumpaan, di situ pula akan ada perpisahan, seperti yang dialami oleh Sifa dan Sang Bunda. Tetapi kita tidak perlu khawatir dengan yang namanya perpisahan, karena ada Allah yang akan menjaga kita satu sama lain, itu yang saya percayai sampai sekarang, mungkin Sifa sependapat dengan saya juga :D.

La Tahzan, Innallaha ma’ana..

Obrolan Akhir Tahun Bersama Atasan

“Kalau dalam permainan sepakbola, saya belum mengeluarkan kemampuan saya secara optimal”, dan atasan saya pun tersenyum mendengar hal itu.

Sore hari, sudah melewati jam pulang kerja, seperti biasa, saya belum pulang dan kemudian ditahan atasan waktu itu untuk jangan pulang dulu, hmm…tanda panggilan untuk menghadap ke mejanya. Eh ternyata tidak hanya saya saja yang diminta menghadap, rekan kerja yang lain pun mengalami hal yang sama. “Ini panggilan rutin akhir tahun toh”, pikir saya, baru nyadar, hehe..

“Bagaimana kerja di sini?” pertanyaan yang dikeluarkan atasan ketika saya sedang menghadap ke mejanya. “Kalau dalam permainan sepakbola, saya belum mengeluarkan kemampuan saya secara optimal”. Dan saya pun menyambut dengan pertanyaan baru, “Dari Bapak sendiri apakah ada masukan sebagai bahan evaluasi saya selama bekerja di sini?”.

Si Bapak mengingatkan bahwa seperti dalam permainan sepakbola, kita tidak bisa bermain sendirian, dibutuhkan kerjasama tim, begitu juga dengan saya, harus dapat meningkatkan teamwork dengan section & department lain yang kerjanya berkaitan. Dan ini kalimat yang saya masih ingat sampai sekarang dari si Bapak, “Yang perlu diperhatikan yaitu PDCA dijalankan secara baik, nanti result akan mengikutinya. Jika ingin result yang baik tapi PDCA tidak dijalankan dengan baik, ya tidak akan menghasilkan result yang baik nantinya”. PDCA teh naon? Wah, saya jadi punya hutang untuk menjelaskannya nih..

Sedikit pandangan dari beliau, walaupun terkesan pragmatis, tapi ada benarnya juga sih. Si Bapak menjelaskan bedanya sekolah dengan bekerja. Di sekolah itu jika kita diberikan nilai 100 itu nilainya bagus, bahkan 80 pun juga sudah bagus, kenapa? karena kita yang membayar sekolah. Sedangkan dalam bekerja jika mendapatkan nilai 100 itu baru cukup, kenapa? karena kita dibayar 100 juga oleh perusahaan. Nilai 100 itu perhitungannya baru balik modal bagi perusahaan, makanya nilai yang bagus itu lebih dari 100. Intinya mah, kita harus memberikan hasil yang bagus & benefit yang lebih buat perusahaan, tidak hanya mencukupkan pada selesainya pekerjaan yang kita lakukan.

Terakhir dari si Bapak, “Kalau ada permasalahan, langsung cerita saja, anggap saya teman, bukan sebagai atasan bawahan. Perbedaan saya dengan kamu hanya saya lahir lebih dulu”. Memang saya pun kagum sama atasan yang satu ini, pintar, ganteng, dan low profile pula. Beliau pun membuat style berpakaian sendiri, yang ini malah jadi diikuti oleh staf-staf di departemennya, termasuk saya :D. Baju kerja dibuka sebagian kancing atasnya dengan menunjukkan adanya dalaman kemeja lain, celana jeans, dan jam tangan. He is Mr. M. Saleh Daulay, Dept. Head of Engineering

Posted from WordPress for Android